Apa itu skoliosis

Skoliosis

12 mins read

Apakah Anda memiliki postur tubuh yang tidak simetris dengan posisi miring? Seringkali merasakan nyeri pada punggung? Atau bahkan mudah merasa lelah? Bisa jadi Anda memiliki skoliosis.

Skoliosis dapat merusak kualitas hidup Anda jika dibiarkan dan semakin memburuk. Akan tetapi, dengan penanganan dan pendekatan yang tepat, skoliosis sebenarnya dapat disembuhkan secara total.

Dalam panduan ini, kami akan menjelaskan secara lengkap mengenai skoliosis, mulai dari penyebab, gejala, tingkat keparahan, metode diagnosis, serta berbagai pilihan pengobatan yang tersedia.


Pendahuluan: Kisah Sukses Pasien Kami

dr budi sugiarto
Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD, CEO Spine Clinic Family Holistic

Kami, Spine Clinic Family Holistic telah membantu ribuan pasien dalam menangani gangguan tulang dan otot, terutama skoliosis.

Kami melakukan penanganan skoliosis dengan menggunakan metode Schroth Best Practice dan brace GBW, yang telah diakui sebagai pengobatan tanpa operasi terbaik berdasarkan studi ilmiah yang berasal dari Jerman.

Spine Clinic Family Holistic sendiri telah dipercaya menjadi pemegang lisensi SBP di Indonesia sejak tahun 2015 dan untuk Asia Tenggara sejak tahun 2018, yang berpusat di SBP Jakarta.

Berikut adalah Before After pasien skoliosis yang kami tangani:

1. Perempuan, usia 11 tahun. Kurva awal 50º (atas) dan 32º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 35º (atas) dan 24º (bawah) dalam waktu 12 bulan.

pasien skoliosis sembuh

2. Perempuan, usia 12 tahun. Kurva awal 21º (atas) dan 45º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 21º (atas) dan 27º (bawah) dalam waktu 18 bulan.

kasus pasien skoliosis sembuh

3. Perempuan, usia 14 tahun. Kurva awal 24º (atas) dan 39º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 11º (atas) dan 20º (bawah) dalam waktu 12 bulan.

skoliosis bisa sembuh

Cek juga testimonial pasien kami yang lain dan kisah sukses mereka dalam melawan Skoliosis.


Apa itu Skoliosis?

Skoliosis adalah suatu kondisi yang melibatkan kelengkungan abnormal pada tulang belakang manusia.

Tulang yang normal memiliki bentuk yang lurus dan sejajar, seperti batang kayu yang tegak. Sedangkan pada skoliosis, tulang belakangnya melengkung secara sisi ke sisi, membentuk pola seperti huruf “S” atau “C”.

apa itu skoliosis

Bayangkan jika tulang belakangmu seperti deretan koin yang terletak satu di atas yang lain. Pada kondisi normal, koin-koin tersebut akan sejajar. Namun, pada skoliosis, beberapa koin mungkin cenderung bergerak ke samping, menyebabkan lengkungan pada tulang belakang.

Skoliosis dapat membuat punggung terlihat tidak lurus dan menyebabkan postur tubuh menjadi tidak simetris.

Tahukah Kamu?

Sekitar 3% dari total populasi dunia mengalami kondisi skoliosis. Sedangkan sekitar 70% dari kasus kelainan tulang belakang pada anak-anak dan remaja disebabkan oleh penyakit skoliosis. Meskipun demikian, skoliosis tidak mengenal batasan usia, dan bisa terjadi pada siapa pun, meski kejadian paling umumnya terjadi pada masa remaja, dimulai sekitar usia 10 hingga 12 tahun.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, tulang normal seharusnya lurus, sedangkan tulang skoliosis melengkung. Jika pada dalam gambaran x-ray, kelengkungan diatas 10 derajat sudah dapat dikategorisasikan sebagai skoliosis.

pasien skoliosis

Nah, untuk memastikan apabila Anda memiliki scoliosis, coba cek jika mempunyai gejala seperti dibawah:


Gejala Skoliosis

Gejala skoliosis dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahannya.

Pada kasus ringan, gejala mungkin kurang terlihat, sedangkan pada kasus yang lebih parah, dapat timbul berbagai masalah. Berikut adalah beberapa gejala klinis umum scoliosis:

gejala skoliosis

1. Postur Tubuh Tidak Simetris

Pergelangan tubuh yang tidak seimbang, terutama pada daerah bahu atau pinggul, merupakan tanda visual utama skoliosis.

Perubahan bentuk tubuh, seperti bahu yang terlihat lebih tinggi atau pinggul yang lebih rendah dari satu sisi, dapat menjadi indikator scoliosis.

Individu dengan scoliosis mungkin memiliki posisi tubuh yang miring atau membungkuk.

Skoliosis yang signifikan juga dapat mengakibatkan penurunan tinggi badan karena kelengkungan tulang belakang yang mengurangi ruang di antara vertebra, serta dapat menghambat pertumbuhan tulang belakang pada masa pertumbuhan.

2. Nyeri pada Punggung

Beberapa penderita scoliosis mengalami nyeri pada daerah punggung, terutama jika kelengkungan tulang belakang cukup signifikan.

Nyeri pada punggung pada penderita skoliosis umumnya disebabkan oleh tekanan yang tidak normal pada tulang belakang, otot, ligamen, dan jaringan lunak di sekitarnya akibat lengkungan yang terbentuk.

Ketidakseimbangan otot, iritasi saraf, perubahan struktur sendi, pertumbuhan cepat selama masa remaja, dan potensi komplikasi lainnya dapat berkontribusi pada ketidaknyamanan dan nyeri yang dirasakan oleh penderita skoliosis.

3. Mudah Merasa Lelah

Beberapa penderita skoliosis mungkin mengalami kelelahan atau ketegangan otot sebagai hasil dari ketidakseimbangan postur tubuh dan stres pada otot-otot tertentu.

Kurva abnormal pada tulang belakang dapat menyebabkan otot-otot bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tubuh, terutama pada kasus scoliosis yang lebih parah.

4. Masalah Respirasi

Berdasarkan riset, kelengkungan tulang belakang dapat mempengaruhi fungsi paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas.

5. Sakit Kepala

Pada beberapa kasus, individu dengan skoliosis mungkin mengalami sakit kepala sebagai hasil dari tekanan yang ditempatkan pada otot-otot leher atau bahu yang mencoba untuk menyeimbangkan tubuh yang tidak seimbang akibat kelengkungan tulang belakang.

Selain itu, pada kasus-kasus tertentu, skoliosis mungkin disertai dengan kondisi lain yang dapat menyebabkan sakit kepala, seperti kompresi saraf tulang belakang atau kelainan tulang belakang yang mempengaruhi aliran darah ke otak. Jika scoliosis disertai dengan kondisi tersebut, sakit kepala dapat menjadi salah satu gejala yang muncul.

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua individu dengan skoliosis akan mengalami sakit kepala.

6. Keterbatasan Gerakan yang Signifikan

skoliosis dapat menyebabkan keterbatasan gerak tergantung pada tingkat keparahan kelengkungan tulang belakang.

Hal ini dapat terjadi karena pembatasan fleksibilitas tulang belakang, ketidakseimbangan otot, kompresi saraf, dan ketidakseimbangan postur tubuh. Namun, dampak ini bisa bervariasi antar individu tergantung pada tingkat keparahan skoliosis dan faktor-faktor lainnya.

Dalam beberapa kasus, penderita scoliosis tidak menunjukkan gejala, terutama pada tingkat keparahan rendah. Maka itu, pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan rutin.


Penyakit Skoliosis Disebabkan Oleh Apa?

Skoliosis dapat berasal dari berbagai faktor, baik genetik maupun non-genetik.

Pemahaman terhadap penyebab skoliosis merupakan langkah awal dalam mengembangkan strategi pengelolaan yang efektif. Berikut adalah beberapa penyebab umum scoliosis:

1. Faktor Genetik

Beberapa kasus scoliosis memiliki dasar genetik, di mana faktor keturunan dapat memainkan peran penting. Riwayat keluarga dengan scoliosis dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

2. Kelainan Bawaan

Beberapa individu lahir dengan kelainan bawaan pada tulang belakang, seperti vertebra tambahan atau kurang, yang dapat menyebabkan scoliosis.

3. Neuromuskular Conditions

Gangguan neuromuskular seperti cerebral palsy atau muscular dystrophy dapat mempengaruhi fungsi otot dan menyebabkan scoliosis.

4. Postural atau Fungsional

Scoliosis postural dapat muncul sebagai respons terhadap posisi tubuh yang tidak seimbang atau kebiasaan postur yang buruk.

5. Idiopatik

Scoliosis idiopatik, yang merupakan jenis paling umum, tidak memiliki penyebab yang jelas. Ini sering terjadi pada anak-anak atau remaja tanpa riwayat keluarga scoliosis.


Diagnosis Skoliosis

Diagnosis scoliosis melibatkan serangkaian langkah, termasuk pemeriksaan fisik, evaluasi sejarah medis, dan pengujian imajinologi. Beberapa metode diagnostik yang umum digunakan adalah:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai simetri tubuh, posisi bahu, pinggul, dan punggung. Langkah ini membantu mendeteksi kemungkinan adanya skoliosis.

adam test untuk skoliosis

Salah satu contoh pemeriksaan yang mudah dilakukan untuk orang awam adalah menggunakan metode Adam’s Test, sehingga para orang tua bisa dengan mudah mendeteksi ada tidaknya scoliosis pada anak.

Untuk memeriksa ini, anak diminta untuk berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar pinggang, kemudian membungkuk ke depan, dengan tangan dilepaskan bebas ke bawah.

2. Penggunaan X-Ray

Pemeriksaan X-Ray adalah metode diagnostik utama untuk mengukur tingkat kelengkungan tulang belakang dan menentukan jenis skoliosis. X-ray juga membantu memantau perkembangan kondisi seiring waktu.

3. MRI atau CT Scan

Pada kasus tertentu, dokter dapat merujuk pasien untuk menjalani MRI atau CT scan untuk mendapatkan gambaran lebih detail tentang struktur tulang belakang dan organ-organ terkait.

4. Pengukuran Cobb Angle

diagnosis skoliosis dengan skoliometer

Metode pengukuran Cobb angle digunakan untuk menentukan sejauh mana kelengkungan tulang belakang. Hal ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan skoliosis.


Klasifikasi Skoliosis

Skoliosis dapat diklasifikasikan berdasarkan jenisnya dan juga tingkat keparahannya, yaitu ringan, sedang, dan berat.

Klasifikasi ini membantu dokter merencanakan strategi pengelolaan yang tepat.

1. Berdasarkan Tingkat Keparahan Skoliosis

Pertama tama, mari kita bahas berdasarkan tingkat keparahannya.

tingkat keparahan skoliosis

Ringan (Cobb Angle < 25 derajat): Scoliosis pada tingkat ini mungkin hanya memerlukan pemantauan reguler tanpa perlu intervensi aktif.

Sedang (Cobb Angle 25-45 derajat): Pemantauan ketat dan terapi fisik mungkin diperlukan untuk mencegah perkembangan lebih lanjut.

Berat (Cobb Angle > 45 derajat): Scoliosis pada tingkat ini mungkin memerlukan perawatan lebih agresif, termasuk pertimbangan pembedahan.

2. Berdasarkan Jenisnya

Nah, sekarang mari kita bahas klasifikasi scoliosis berdasarkan jenisnya.

Skoliosis Idiopatik

Skoliosis idiopatik adalah jenis yang paling umum dan tidak memiliki penyebab yang jelas. Ini sering terjadi pada anak-anak atau remaja, dan dapat dibagi menjadi tiga subjenis berdasarkan usia onsetnya:

  • Infantil: Onsetnya terjadi sebelum usia 3 tahun.
  • Juvenil: Onsetnya terjadi antara usia 3 dan 10 tahun.
  • Adolesen: Onsetnya terjadi antara usia 10 dan 18 tahun.

Skoliosis Neuromuskuler

Scoliosis ini terjadi sebagai akibat dari gangguan saraf atau otot. Contohnya termasuk cerebral palsy, distrofi otot, atau trauma saraf tulang belakang.

Skoliosis Kongenital

Ini adalah bentuk scoliosis yang disebabkan oleh kelainan bawaan pada tulang belakang saat lahir. Kelainan ini bisa berupa tulang belakang yang tidak terbentuk dengan benar atau terbentuk secara tidak sempurna.

Skoliosis Degeneratif

Scoliosis ini berkembang sebagai hasil dari perubahan degeneratif pada tulang belakang seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat terjadi karena osteoporosis, osteoarthritis, atau degenerasi diskus intervertebralis.

Skoliosis Neuropatik

Biasanya terkait dengan kelainan saraf tertentu seperti sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos, atau syringomyelia.

Skoliosis Fungsional

Skoliosis fungsional biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan otot atau perbedaan panjang kaki yang signifikan. Kelengkungan tulang belakang dalam kasus ini adalah respons adaptif tubuh terhadap ketidakseimbangan tersebut dan bukan karena adanya kelainan struktural tulang belakang.

3. Berdasarkan Pola Skoliosis

7 pola skoliosis

Skoliosis dapat diklasifikasikan ke dalam 7 jenis pola kurva secara umum. Oleh karena itu, diperlukan terapi dan program yang sesuai untuk mengatasi pola kurva skoliosis ini secara efektif.

Setiap jenis skoliosis memiliki karakteristiknya sendiri dan memerlukan pendekatan perawatan yang berbeda tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan faktor-faktor lainnya.


Pengobatan dan Manajemen Skoliosis

Setelah diagnosis, dokter akan merancang rencana pengobatan dan manajemen yang sesuai dengan tingkat keparahan scoliosis. Beberapa opsi pengobatan dan manajemen yang umum meliputi:

1. Pemantauan Rutin

Pada scoliosis ringan, dokter mungkin memilih untuk melakukan pemantauan rutin tanpa intervensi aktif. Seringkali, pasien akan menjalani pemeriksaan secara berkala untuk memastikan bahwa kelengkungan tidak mengalami perubahan signifikan.

Pada kasus ringan, terutama pada usia dewasa, perawatan mungkin tidak diperlukan. Namun, pada anak-anak dengan kurva skoliosis antara 10-15 derajat, perlu diingat bahwa dokter mungkin masih memiliki kekhawatiran terkait potensi peningkatan kurva. Oleh karena itu, disarankan untuk menjalani pemeriksaan ulang setelah periode 6 bulan.

2. Latihan Schroth

Untuk anak-anak dan dewasa dengan scoliosis di atas 10 derajat, disarankan melakukan latihan Schroth. Ini adalah terapi khusus untuk melatih otot, mengurangi rasa sakit, dan memperbaiki postur tubuh pada scoliosis.

latihan schroth untuk skoliosis

Latihan ini berasal dari Jerman dan dapat dipelajari melalui program Schroth Best Practice, memudahkan pasien berlatih di rumah. Program ini juga mengajarkan cara memanfaatkan prinsip Schroth dalam aktivitas sehari-hari (ADL) untuk menjaga postur tubuh.

3. Penggunaan Brace GBW

Pada anak dengan scoliosis kurva di atas 20 derajat atau pada pasien dewasa dengan scoliosis di atas 40 derajat, direkomendasikan penggunaan brace GBW (Gensingen brace by Weiss).

brace GBW
Gambar: Pasien skoliosis yang menggunakan brace GBW.

Brace ini, berbasis teknologi 3D dari Jerman, dirancang untuk mengoreksi kemiringan dan perputaran tulang pada scoliosis. Brace GBW bersifat rigid, asimetris, dan dirancang sesuai tipe kurva pasien, memberikan koreksi maksimal.

Proses pembuatannya cepat, nyaman, dan brace ini lebih ringan, tidak menghambat gerakan pernafasan, dan memungkinkan aktivitas normal. Disarankan penggunaan full-time (20-22 jam/hari), dengan penyesuaian durasi sesuai perkembangan pasien.

Tingkat kesuksesan brace GBW yaitu 95% dan dapat mengkoreksi 50-90% derajat kelengkungan pada pasien skoliosis usia puber 10-14 tahun.

skoliosis bisa disembuhkan

4. Operasi Skoliosis

Keputusan untuk melakukan operasi pada scoliosis sangat tergantung pada beberapa faktor, termasuk tingkat keparahan scoliosis, gejala yang dialami oleh pasien, dan respons terhadap perawatan konservatif.

Tidak semua kasus skoliosis memerlukan operasi, dan banyak kasus dapat dikelola dengan metode perawatan non-bedah.

Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk menentukan apakah operasi scoliosis diperlukan:

  • Jika kasus scoliosis dengan kurva yang signifikan, yaitu biasanya di atas 60 derajat.
  • Pada anak-anak atau remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, terutama jika skoliosis meningkat dengan cepat atau mencapai tingkat keparahan tertentu.
  • Jika scoliosis menyebabkan gejala yang signifikan, seperti nyeri yang tidak dapat diatasi dengan perawatan konservatif, atau jika terdapat komplikasi serius seperti gangguan pernapasan, operasi mungkin diindikasikan.
  • Pertimbangan psikologis dan sosial juga dapat memainkan peran, terutama jika scoliosis memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Pahami juga resiko & efek samping operasi skoliosis dan lebih lengkapnya mengenai spinal fusion surgery dalam artikel ini.

5. Pola Makan Kalsium & Vitamin D

Asupan nutrisi yang seimbang, terutama kalsium dan vitamin D, penting untuk menjaga kesehatan tulang. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai.


Pencegahan Skoliosis

Tidak semua jenis scoliosis dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh faktor genetik atau kelainan bawaan. Namun, beberapa langkah pencegahan dapat membantu mengurangi risiko scoliosis postural, termasuk:

1. Pemeliharaan Postur Tubuh yang Baik

Menjaga postur tubuh yang baik saat duduk, berdiri, dan berjalan dapat membantu mencegah ketidakseimbangan otot dan perkembangan scoliosis postural.

Pastikan meja, kursi, dan area kerja sesuai dengan ergonomi untuk mendukung postur tubuh yang baik. Ketika berdiri atau duduk, pertahankan posisi tubuh yang seimbang.

Selain itu, hindari kebiasaan buruk seperti membungkuk terlalu sering atau mengangkat beban dengan cara yang salah dapat membantu mencegah scoliosis.

2. Aktivitas Fisik yang Teratur dan Tidak Berlebih

Latihan fisik yang teratur dapat membantu memperkuat otot-otot di sekitar tulang belakang dan menjaga fleksibilitasnya.

Hindari beban berlebih. Membatasi beban yang terlalu berat yang harus ditanggung oleh tulang belakang dapat membantu mencegah tekanan berlebih pada tulang belakang.

Olahraga yang dianjurkan untuk penderita skoliosis adalah olahraga yang membantu menguatkan otot tapi tanpa memberikan beban berlebih seperti contohnya berenang, yoga dan bersepeda. Untuk lengkapnya, lihat dalam artikel “Olahraga Untuk Skoliosis: Mana yang Dilarang dan Aman?“.

3. Pemeriksaan Rutin oleh Dokter

Pemeriksaan rutin oleh dokter, terutama pada anak-anak dan remaja, dapat membantu mendeteksi scoliosis pada tahap awal dan memulai pengelolaan yang sesuai.


Asupan Nutrisi yang Baik Untuk Pasien Skoliosis

Nutrisi berperan penting dalam mendukung kesehatan tulang dan otot pada penderita skoliosis. Beberapa jenis makanan dapat memberikan manfaat khusus bagi kesehatan tulang dan otot, seperti yang ditemukan dalam penelitian di Eropa yang menunjukkan hubungan antara progresi skoliosis dengan defisiensi hormon dan kurangnya respon otak terhadap hormon/neurotransmitter.

Defisiensi hormon yang sering terjadi pada skoliosis termasuk serotonin, melatonin, calmodulin, leptin, dan growth hormone. Serotonin, misalnya, penting untuk kontrol postural dinamis tubuh. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien idiopatik skoliosis cenderung memiliki tingkat selenium yang rendah dan tingkat osteopontin (OPN) yang tinggi, yang berperan dalam mengatur pertumbuhan tulang.

Penting untuk memperhatikan asupan nutrisi yang mencukupi, termasuk asam amino dan vitamin B yang merupakan bahan baku neurotransmitter. Suplemen seperti selenium dapat membantu mengurangi tingkat OPN dan memperlambat progresi skoliosis.

Beberapa suplemen lain yang dapat dikonsumsi termasuk suplemen herbal anti peradangan, enzim pencernaan, probiotik, omega-3, kolagen, dan vitamin D3. Ini membantu memperbaiki ketidakseimbangan hormonal dan mendukung terapi skoliosis.

Pantangan Makanan Untuk Skoliosis

Selain mengonsumsi makanan yang baik, penting juga untuk memperhatikan makanan yang sebaiknya dihindari. Makanan yang mengandung garam tinggi, gula, alkohol, kafein, serta makanan berminyak dan berpengawet dapat menyebabkan defisiensi nutrisi, peradangan, dan penurunan massa tulang.

Pantangan makanan untuk penderita skoliosis termasuk daging babi, alkohol, tepung putih, soda, kacang kedelai, kopi, gula, garam, coklat, makanan berminyak, maupun makanan dengan pengawet dan pemanis buatan.

Untuk mendukung kesehatan tulang dan mengurangi progresi skoliosis, penting untuk memilih makanan yang sehat dan bergizi, serta membatasi makanan yang dapat memperburuk kondisi. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk saran yang sesuai dengan kondisi individual Anda.


Cara Tidur yang Baik Untuk Pasien Skoliosis

Bagaimana cara tidur pesakit scoliosis? Pertanyaan ini sering menjadi kekuatiran bagi para penderita skoliosis.

Ada beberapa posisi tidur yang direkomendasikan bagi penderita skoliosis agar dapat tidur dengan nyaman dan mengurangi risiko memperparah kondisi mereka. Berikut ini adalah beberapa posisi tidur yang baik bagi penderita skoliosis:

cara tidur pesakit scoliosis

1. Posisi Tidur Terlentang (Supine)

Tidur dengan posisi terlentang adalah pilihan terbaik bagi penderita skoliosis. Dalam posisi ini, berat tubuh didistribusikan secara merata ke seluruh tubuh, sehingga tekanan pada tulang belakang terbagi secara simetris di kedua sisi.

Hal ini membantu mencegah peningkatan derajat kelengkungan kurva skoliosis.

2. Posisi Tidur Miring ke Salah Satu Sisi

Jika tidak nyaman tidur terlentang, pilihan kedua adalah tidur miring ke salah satu sisi. Untuk penderita skoliosis, disarankan untuk memilih sisi tidur sesuai dengan kurva skoliosis mereka.

Misalnya, bagi mereka yang memiliki skoliosis dengan kurva tunggal, disarankan tidur miring dengan sisi cekung di bawah. Sementara bagi mereka yang memiliki kurva ganda, tidur miring ke kanan atau kiri bisa menjadi pilihan. Penggunaan guling di antara kedua kaki dapat membantu menjaga posisi tulang belakang tetap seimbang.

3. Hindari Posisi Tidur Meringkuk

Penderita skoliosis sebaiknya menghindari posisi tidur meringkuk, seperti posisi janin di dalam kandungan. Posisi ini dapat membuat tulang belakang melengkung ke depan, yang dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang dan membuat otot-otot sepanjang tulang belakang menjadi tegang.

4. Hindari Posisi Tidur Tengkurap

Posisi tidur tengkurap juga sebaiknya dihindari, karena dapat membuat otot-otot di sepanjang tulang belakang menjadi tegang dan memperparah ketegangan otot pada sisi tertentu. Selain itu, posisi ini juga memberikan tekanan tambahan pada sendi-sendi yang seharusnya beristirahat saat tidur.

Dengan memperhatikan posisi tidur yang baik dan menghindari posisi yang dapat memperburuk kondisi, penderita skoliosis dapat tidur dengan lebih nyaman dan mengurangi risiko komplikasi yang terkait dengan kelainan tulang belakang ini. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli fisioterapi untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi individu.

Perlengkapan tidur juga merupakan hal penting yang perlu diperhatikan oleh penderita skoliosis. Berikut adalah beberapa tips terkait perlengkapan tidur:

  1. Kasur yang Padat dan Kaku: Pilihlah kasur atau alas tidur yang cukup padat, keras, dan kaku. Kasur yang baik akan menyangga dan menjaga posisi tulang belakang tetap dalam posisi netral. Hindari kasur yang terlalu empuk dan lentur, karena dapat membuat tulang belakang tenggelam dan memberikan tekanan tambahan.
  2. Bantal yang Tidak Terlalu Tinggi: Gunakan bantal atau alas kepala yang tidak terlalu tebal atau tinggi. Bantal yang terlalu tinggi dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang, khususnya pada bagian leher. Penggunaan bantal yang terlalu tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan nyeri pada leher dan bahu.

Pertanyaan Umum Seputar Skoliosis

1. Apa yang terjadi jika skoliosis dibiarkan?

Jika skoliosis dibiarkan tanpa pengobatan atau perawatan yang tepat, kemungkinan besar kondisi tersebut akan memburuk seiring waktu. Skoliosis yang tidak diatasi dapat menyebabkan peningkatan ketidaknyamanan, nyeri punggung, gangguan postur, dan bahkan masalah pernapasan atau jantung pada kasus yang parah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendeteksi scoliosis sejak dini dan mengelolanya dengan perawatan yang sesuai untuk mencegah kemungkinan komplikasi yang lebih serius.

2. Skoliosis apakah bisa diurut?

Secara umum, skoliosis tidak dapat disembuhkan dengan urut atau pijat saja. Namun, terapi fisik, termasuk latihan khusus, pemijatan, dan manipulasi manual, dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki postur pada beberapa kasus skoliosis ringan hingga sedang. Namun, terapi fisik ini harus dilakukan oleh profesional medis yang terlatih dalam penanganan.

3. Mengapa skoliosis lebih banyak terjadi pada wanita?

Perkembangan tubuh dan pubertas yang berlangsung lebih cepat pada wanita menjadi pemicu timbulnya scoliosis. Selain itu, hal ini bisa juga disebabkan karena fisik wanita lebih lemah dibanding pria.

4. Apa merek susu bagus untuk penderita scoliosis?

Tidak ada merek susu tertentu yang secara spesifik direkomendasikan untuk penderita skoliosis. Namun, makanan yang mengandung nutrisi penting, termasuk kalsium dan vitamin D, sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang secara umum. Sejumlah jenis susu umumnya dianggap baik karena kandungan kalsiumnya yang tinggi:

  • Susu Sapi: Susu sapi merupakan sumber kalsium yang baik dan juga mengandung vitamin D, yang membantu tubuh dalam menyerap kalsium.
  • Susu Kedelai: Bagi mereka yang intoleran terhadap laktosa atau memiliki alergi susu sapi, susu kedelai bisa menjadi alternatif. Banyak susu kedelai juga diperkaya dengan kalsium dan vitamin D.
  • Susu Almond: Susu almond juga dapat menjadi pilihan untuk mereka yang memiliki intoleransi terhadap laktosa atau alergi susu sapi. Namun, perlu diingat bahwa susu almond umumnya memiliki kandungan kalsium yang lebih rendah daripada susu sapi.
  • Susu Kalsium Tinggi: Beberapa produk susu yang diperkaya dengan tambahan kalsium, seperti susu dengan kalsium tambahan, juga dapat dipertimbangkan.

Lebih dari 10,700 pasien skoliosis yang sudah kami tangani, apakah Anda selanjutnya? Segera periksakan skoliosis Anda sedini mungkin agar lebih cepat ditangani dan hasilnya pun maksimal.

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD merupakan CEO dari Spine Clinic Family Holistic sejak 2006, beliau yang membawa teknik Schroth Best Practice dan Brace GBW ke Indonesia serta telah menuliskan materi ilmiah mengenai tingkat keberhasilan Brace GBW dalam mengobati skoliosis dan keluhannya.