skoliosis

Skoliosis

13 mins read

Apa itu Skoliosis?

Skoliosis adalah suatu kondisi yang melibatkan kelengkungan abnormal pada tulang belakang manusia.

Tulang yang normal memiliki bentuk yang lurus dan sejajar, seperti batang kayu yang tegak.

Sedangkan pada skoliosis, tulang belakang melengkung secara sisi ke sisi, membentuk pola seperti huruf “S” atau “C”.

apa itu skoliosis

Skoliosis dapat membuat punggung terlihat tidak lurus dan menyebabkan postur tubuh menjadi tidak simetris.

Tulang normal seharusnya lurus, sedangkan tulang skoliosis melengkung.

Jika pada dalam gambaran x-ray, kelengkungan diatas 10 derajat sudah dapat dikategorisasikan sebagai skoliosis.

pasien skoliosis


Gejala Skoliosis

Gejala dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahannya.

Pada kasus ringan, gejala mungkin kurang terlihat, sedangkan pada kasus yang lebih parah, dapat timbul berbagai masalah.

Berikut adalah beberapa gejala klinis umum scoliosis:

gejala skoliosis

  1. Postur Tubuh Tidak Simetris: Pergelangan tubuh yang tidak seimbang, terutama pada daerah bahu atau pinggul terlihat lebih tinggi dari satu sisi. Individu dengan scoliosis mungkin memiliki posisi tubuh yang miring atau membungkuk.
  2. Nyeri Punggung: Nyeri pada punggung umumnya disebabkan oleh tekanan yang tidak normal pada tulang belakang, otot, ligamen, dan jaringan lunak di sekitarnya akibat lengkungan yang terbentuk.
  3. Mudah Merasa Lelah: Kurva abnormal pada tulang belakang dapat menyebabkan otot-otot bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tubuh, terutama pada kasus yang lebih parah.
  4. Keterbatasan Gerakan yang Signifikan: Hal ini dapat terjadi karena pembatasan fleksibilitas tulang belakang, ketidakseimbangan otot, kompresi saraf, dan ketidakseimbangan postur tubuh.
  5. Kesulitan Bernapas (Pada Beberapa Kasus): Berdasarkan riset, kelengkungan tulang belakang dapat mempengaruhi fungsi paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas.
  6. Sakit Kepala: Pada beberapa kasus, individu dengan skoliosis mungkin mengalami sakit kepala sebagai hasil dari tekanan yang ditempatkan pada otot-otot leher atau bahu yang mencoba untuk menyeimbangkan tubuh yang tidak seimbang akibat kelengkungan tulang belakang.

Dalam beberapa kasus, penderita scoliosis tidak menunjukkan gejala, terutama pada tingkat keparahan rendah. Maka itu, pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan rutin.

Skoliosis yang signifikan juga dapat mengakibatkan penurunan tinggi badan karena kelengkungan tulang belakang yang mengurangi ruang di antara vertebra, serta dapat menghambat pertumbuhan tulang belakang pada masa pertumbuhan.


Penyakit Skoliosis Disebabkan Oleh Apa?

Dalam lebih dari 80% kasus, penyebab skoliosis tidak diketahui – kondisi ini disebut skoliosis idiopatik.

Namun, berikut adalah faktor resiko penyakit skoliosis yang umum:

  • Faktor Genetik: Beberapa kasus scoliosis memiliki dasar genetik, di mana faktor keturunan dapat memainkan peran penting. Riwayat keluarga dengan scoliosis dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.
  • Kelainan Bawaan: Beberapa individu lahir dengan kelainan bawaan pada tulang belakang, seperti vertebra tambahan atau kurang, yang dapat menyebabkan scoliosis.
  • Neuromuskular Conditions: Gangguan neuromuskular seperti cerebral palsy atau muscular dystrophy dapat mempengaruhi fungsi otot dan menyebabkan scoliosis.
  • Kebiasaan Postur yang Buruk: Scoliosis postural dapat muncul sebagai respons terhadap posisi tubuh yang tidak seimbang atau kebiasaan postur yang buruk.

Diagnosis Skoliosis

Beberapa metode diagnostik yang umum digunakan adalah:

1. Adam’s Test

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai simetri tubuh, posisi bahu, pinggul, dan punggung. Langkah ini membantu mendeteksi kemungkinan adanya skoliosis.

adam test untuk skoliosis

Salah satu contoh pemeriksaan yang mudah dilakukan untuk orang awam adalah menggunakan metode Adam’s Test, sehingga para orang tua bisa dengan mudah mendeteksi ada tidaknya scoliosis pada anak.

Untuk memeriksa ini, anak diminta untuk berdiri tegak dengan kaki terbuka selebar pinggang, kemudian membungkuk ke depan, dengan tangan dilepaskan bebas ke bawah.

2. Penggunaan X-Ray

Pemeriksaan X-Ray adalah metode diagnostik utama untuk mengukur tingkat kelengkungan tulang belakang dan menentukan jenis skoliosis. X-ray juga membantu memantau perkembangan kondisi seiring waktu.

3. MRI atau CT Scan

Pada kasus tertentu, dokter dapat merujuk pasien untuk menjalani MRI atau CT scan untuk mendapatkan gambaran lebih detail tentang struktur tulang belakang dan organ-organ terkait.

4. Pengukuran Cobb Angle

diagnosis skoliosis dengan skoliometer

Metode pengukuran Cobb angle digunakan untuk menentukan sejauh mana kelengkungan tulang belakang. Hal ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan skoliosis.


Klasifikasi Skoliosis

Skoliosis dapat diklasifikasikan berdasarkan jenisnya dan juga tingkat keparahannya, yaitu ringan, sedang, dan berat.

Klasifikasi ini membantu dokter merencanakan strategi pengelolaan yang tepat.

1. Berdasarkan Tingkat Keparahan Skoliosis

Pertama tama, mari kita bahas berdasarkan tingkat keparahannya.

tingkat keparahan skoliosis

  • Ringan (Cobb Angle < 25 derajat): Scoliosis pada tingkat ini mungkin hanya memerlukan pemantauan reguler tanpa perlu intervensi aktif.
  • Sedang (Cobb Angle 25-45 derajat): Pemantauan ketat dan terapi fisik mungkin diperlukan untuk mencegah perkembangan lebih lanjut.
  • Berat (Cobb Angle > 45 derajat): Scoliosis pada tingkat ini mungkin memerlukan perawatan lebih agresif, termasuk pertimbangan pembedahan.

2. Berdasarkan Jenisnya

Nah, sekarang mari kita bahas klasifikasi berdasarkan jenisnya.

  • Skoliosis Idiopatik adalah jenis yang paling umum dan tidak memiliki penyebab yang jelas. Ini sering terjadi pada anak-anak atau remaja, dan dapat dibagi menjadi tiga subjenis berdasarkan usia onsetnya: Infantil: Onsetnya terjadi sebelum usia 3 tahun, Juvenil: Onsetnya terjadi antara usia 3 dan 10 tahun, Adolesen: Onsetnya terjadi antara usia 10 dan 18 tahun.
  • Skoliosis Neuromuskuler terjadi sebagai akibat dari gangguan saraf atau otot. Contohnya termasuk cerebral palsy, distrofi otot, atau trauma saraf tulang belakang.
  • Skoliosis Kongenital disebabkan oleh kelainan bawaan pada tulang belakang saat lahir. Kelainan ini bisa berupa tulang belakang yang tidak terbentuk dengan benar atau terbentuk secara tidak sempurna.
  • Skoliosis Degeneratif berkembang sebagai hasil dari perubahan degeneratif pada tulang belakang seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat terjadi karena osteoporosis, osteoarthritis, atau degenerasi diskus intervertebralis.
  • Skoliosis Neuropatik: Biasanya terkait dengan kelainan saraf tertentu seperti sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos, atau syringomyelia.
  • Skoliosis Fungsional: Skoliosis fungsional biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan otot atau perbedaan panjang kaki yang signifikan. Kelengkungan tulang belakang dalam kasus ini adalah respons adaptif tubuh terhadap ketidakseimbangan tersebut dan bukan karena adanya kelainan struktural tulang belakang.

3. Berdasarkan Pola Skoliosis

7 pola skoliosis

Skoliosis dapat diklasifikasikan ke dalam 7 jenis pola kurva secara umum. Oleh karena itu, diperlukan terapi dan program yang sesuai untuk mengatasi pola kurva skoliosis ini secara efektif.

Setiap jenis skoliosis memiliki karakteristiknya sendiri dan memerlukan pendekatan perawatan yang berbeda tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan faktor-faktor lainnya.


Penanganan Skoliosis Tanpa Operasi

Dalam konteks pengobatan skoliosis, terapi konservatif mengacu pada serangkaian metode non-bedah yang bertujuan untuk mengelola dan memperbaiki kelengkungan tulang belakang tanpa perlu melakukan operasi.

Beberapa pendekatan terapi konservatif yang umum digunakan dalam pengobatan skoliosis meliputi:

1. Latihan Schroth

Untuk anak-anak dan dewasa dengan scoliosis di atas 10 derajat, disarankan melakukan latihan Schroth. Ini adalah terapi khusus untuk melatih otot, mengurangi rasa sakit, dan memperbaiki postur tubuh pada scoliosis.

latihan schroth untuk skoliosis

Latihan ini berasal dari Jerman dan dapat dipelajari melalui program Schroth Best Practice, memudahkan pasien berlatih di rumah. Program ini juga mengajarkan cara memanfaatkan prinsip Schroth dalam aktivitas sehari-hari (ADL) untuk menjaga postur tubuh.

2. Latihan Postur

Latihan-latihan berikut mungkin tidak ditujukan secara khusus untuk diagnosis skoliosis Anda, tetapi mereka adalah titik awal yang baik untuk membuat Anda bergerak. Kadang-kadang, teknik umum untuk penguatan dan pengkondisian ini cukup untuk mengurangi gejala skoliosis ringan.

  • Step down and one-arm reach

5 Top Scoliosis Exercises and Stretches

  • Upward and downward dog

5 Top Scoliosis Exercises and Stretches

  • Split stance with arm reach

5 Top Scoliosis Exercises and Stretches

3. Penggunaan Brace GBW

Penggunaan brace pada kasus skoliosis bertujuan untuk mengontrol atau memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang, serta membantu menjaga postur tubuh yang sehat. Nah, penggunaan brace ini dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam manajemen skoliosis.

Pada anak dengan scoliosis kurva di atas 20 derajat atau pada pasien dewasa dengan scoliosis di atas 40 derajat, direkomendasikan penggunaan brace GBW (Gensingen brace by Weiss).

brace GBW
Gambar: Pasien skoliosis yang menggunakan brace GBW.

Brace ini, berbasis teknologi 3D dari Jerman, dirancang untuk mengoreksi kemiringan dan perputaran tulang pada scoliosis. Brace GBW bersifat rigid, asimetris, dan dirancang sesuai tipe kurva pasien, memberikan koreksi maksimal.

Proses pembuatannya cepat, nyaman, dan brace ini lebih ringan, tidak menghambat gerakan pernafasan, dan memungkinkan aktivitas normal. Disarankan penggunaan full-time (20-22 jam/hari), dengan penyesuaian durasi sesuai perkembangan pasien.

Tingkat kesuksesan brace GBW yaitu 95% dan dapat mengkoreksi 50-90% derajat kelengkungan pada pasien usia puber 10-14 tahun.

skoliosis bisa disembuhkan


Pencegahan Skoliosis

Tidak semua jenis scoliosis dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh faktor genetik atau kelainan bawaan. Namun, beberapa langkah pencegahan dapat membantu mengurangi risiko scoliosis postural, termasuk:

1. Pemeliharaan Postur Tubuh yang Baik

Menjaga postur tubuh yang baik saat duduk, berdiri, dan berjalan dapat membantu mencegah ketidakseimbangan otot dan perkembangan scoliosis postural.

Pastikan meja, kursi, dan area kerja sesuai dengan ergonomi untuk mendukung postur tubuh yang baik. Ketika berdiri atau duduk, pertahankan posisi tubuh yang seimbang.

Selain itu, hindari kebiasaan buruk seperti membungkuk terlalu sering atau mengangkat beban dengan cara yang salah dapat membantu mencegah scoliosis.

2. Aktivitas Fisik yang Teratur dan Tidak Berlebih

Latihan fisik yang teratur dapat membantu memperkuat otot-otot di sekitar tulang belakang dan menjaga fleksibilitasnya.

Hindari beban berlebih. Membatasi beban yang terlalu berat yang harus ditanggung oleh tulang belakang dapat membantu mencegah tekanan berlebih pada tulang belakang.

Olahraga yang dianjurkan untuk penderita skoliosis adalah olahraga yang membantu menguatkan otot tapi tanpa memberikan beban berlebih seperti contohnya berenang, yoga dan bersepeda. Untuk lengkapnya, lihat dalam artikel “Olahraga Untuk Skoliosis: Mana yang Dilarang dan Aman?“.

3. Pemeriksaan Rutin oleh Dokter

Pemeriksaan rutin oleh dokter, terutama pada anak-anak dan remaja, dapat membantu mendeteksi pada tahap awal dan memulai pengelolaan yang sesuai.


Posisi Tidur yang Dianjurkan Untuk Pasien Skoliosis

Ada beberapa posisi tidur yang direkomendasikan bagi penderita skoliosis agar dapat tidur dengan nyaman dan mengurangi risiko memperparah kondisi mereka. Berikut ini adalah beberapa posisi tidur yang baik bagi penderita:

cara tidur pesakit scoliosis

  • Posisi Tidur Terlentang: Tidur dengan posisi terlentang adalah pilihan terbaik bagi penderita skoliosis. Dalam posisi ini, berat tubuh didistribusikan secara merata ke seluruh tubuh, sehingga tekanan pada tulang belakang terbagi secara simetris di kedua sisi. Hal ini membantu mencegah peningkatan derajat kelengkungan kurva.
  • Posisi Tidur Miring ke Salah Satu Sisi: Jika tidak nyaman tidur terlentang, pilihan kedua adalah tidur miring ke salah satu sisi. Untuk penderita skoliosis, disarankan untuk memilih sisi tidur sesuai dengan kurva skoliosis mereka. Misalnya, bagi mereka yang memiliki skoliosis dengan kurva tunggal, disarankan tidur miring dengan sisi cekung di bawah. Sementara bagi mereka yang memiliki kurva ganda, tidur miring ke kanan atau kiri bisa menjadi pilihan. Penggunaan guling di antara kedua kaki dapat membantu menjaga posisi tulang belakang tetap seimbang.
  • Hindari Posisi Tidur Meringkuk: Penderita skoliosis sebaiknya menghindari posisi tidur meringkuk, seperti posisi janin di dalam kandungan. Posisi ini dapat membuat tulang belakang melengkung ke depan, yang dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang dan membuat otot-otot sepanjang tulang belakang menjadi tegang.
  • Hindari Posisi Tidur Tengkurap: Posisi tidur tengkurap juga sebaiknya dihindari, karena dapat membuat otot-otot di sepanjang tulang belakang menjadi tegang dan memperparah ketegangan otot pada sisi tertentu. Selain itu, posisi ini juga memberikan tekanan tambahan pada sendi-sendi yang seharusnya beristirahat saat tidur.

Perlengkapan tidur juga merupakan hal penting yang perlu diperhatikan oleh penderita skoliosis. Berikut adalah beberapa tips terkait perlengkapan tidur:

  1. Kasur yang Padat dan Kaku: Pilihlah kasur atau alas tidur yang cukup padat, keras, dan kaku. Kasur yang baik akan menyangga dan menjaga posisi tulang belakang tetap dalam posisi netral. Hindari kasur yang terlalu empuk dan lentur, karena dapat membuat tulang belakang tenggelam dan memberikan tekanan tambahan.
  2. Bantal yang Tidak Terlalu Tinggi: Gunakan bantal atau alas kepala yang tidak terlalu tebal atau tinggi. Bantal yang terlalu tinggi dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang, khususnya pada bagian leher. Penggunaan bantal yang terlalu tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan nyeri pada leher dan bahu.

Contoh Sukses Pasien Skoliosis Kami

Kami, Spine Clinic Family Holistic telah membantu ribuan pasien dalam menangani gangguan tulang dan otot, terutama skoliosis.

Kami melakukan penanganan skoliosis dengan menggunakan metode Schroth Best Practice dan brace GBW, yang telah diakui sebagai pengobatan tanpa operasi terbaik berdasarkan studi ilmiah yang berasal dari Jerman.

Spine Clinic Family Holistic sendiri telah dipercaya menjadi pemegang lisensi SBP di Indonesia sejak tahun 2015 dan untuk Asia Tenggara sejak tahun 2018, yang berpusat di SBP Jakarta.

Berikut adalah Before After pasien yang kami tangani:

1. Perempuan, usia 11 tahun. Kurva awal 50º (atas) dan 32º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 35º (atas) dan 24º (bawah) dalam waktu 12 bulan.

pasien skoliosis sembuh

2. Perempuan, usia 12 tahun. Kurva awal 21º (atas) dan 45º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 21º (atas) dan 27º (bawah) dalam waktu 18 bulan.

kasus pasien skoliosis sembuh

3. Perempuan, usia 14 tahun. Kurva awal 24º (atas) dan 39º (bawah), dikoreksi dengan Brace GBW menjadi 11º (atas) dan 20º (bawah) dalam waktu 12 bulan.

skoliosis bisa sembuh

Cek juga testimonial pasien kami yang lain dan kisah sukses mereka dalam melawan Skoliosis.

Lebih dari 10,700 pasien skoliosis yang sudah kami tangani, apakah Anda selanjutnya? Segera periksakan skoliosis Anda sedini mungkin agar lebih cepat ditangani dan hasilnya pun maksimal. Cek Scoliosis Rehab kami di sini.


dr budi sugiarto
Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD, CEO Spine Clinic Family Holistic

Hasil Studi Mengenai Pasien Skoliosis

Tahun 2018 sungguh merupakan tahun yang sangat sibuk, dimana saya boleh dipercaya untuk berpergian dan menolong pasien skoliosis di berbagai negara, seperti Korea, Jepang, China dan Malaysia.

Pada kesempatan ini, saya ingin share 5 kesamaan pada Pasien di Korea, Jepang, China, Malaysia dan Indonesia:

  1. Pasien Skoliosis pada usia puber bila memiliki derajat di atas 40 derajat, maka akan berkembang secara agresif dan segera memerlukan brace yang spesifik yang secara signifikan untuk mengkoreksi derajat skoliosis. Maka itu, brace GBW menjadi sesuatu yang wajib dalam mengkoreksi skoliosis. Brace GBW telah menjadi solusi baik mengurangi Skoliosis secara signifikan, meringankan derajat skoliosis hingga memperbaiki bentuk penampilan secara kosmetik. Brace GBW dan latihan Schroth merupakan koreksi pasif dan aktif yang saling melengkapi dan merupakan perpaduan yang sangat baik dalam menangani pasien skoliosis.
  2. Orang tua Pasien Skoliosis seringkali heran kenapa anaknya tidak memiliki gejala atau keluhan apapun hingga menjadi cukup parah. Karena memang pasien remaja sebagian besar badannya energik, tidak masih muda dan cukup toleran dengan rasa pegal ataupun nyeri.
  3. Karena tidak memiliki keluhan, maka seringkali ditemukan dalam kondisi kurva yang sudah cukup besar. Oleh karena itu deteksi dini dan kesadaran akan skoliosis semakin diperlukan.
  4. Anak dengan skoliosis bila diberi pengertian, komunikasi Anak dan ortu berjalan dengan baik, maka mereka tetap bisa menerima pengobatan Brace GBW. Walaupun brace GBW rigid, menghalangi beberapa gerakan-gerakan yang berbahaya untuk skoliosis (seperti bungkuk, memutar atau menekuk yang menambah kelengkungan, dan sebagainya).
  5. Anak dengan skoliosis akan merasakan lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih merasa nyaman dengan badannya setelah dikoreksi brace GBW. Jadi rasa tidak nyaman ketika memakai brace lebih bersifat sementara dan menghasilkan perbaikan permanen di badan ketika memakai brace GBW secara benar dan konsisten.

Pertanyaan Umum Seputar Skoliosis

1. Apa yang terjadi jika skoliosis dibiarkan?

Jika skoliosis dibiarkan tanpa pengobatan atau perawatan yang tepat, kemungkinan besar kondisi tersebut akan memburuk seiring waktu. Skoliosis yang tidak diatasi dapat menyebabkan peningkatan ketidaknyamanan, nyeri punggung, gangguan postur, dan bahkan masalah pernapasan atau jantung pada kasus yang parah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendeteksi sejak dini dan mengelolanya dengan perawatan yang sesuai untuk mencegah kemungkinan komplikasi yang lebih serius.

2. Skoliosis apakah bisa diurut?

Secara umum, skoliosis tidak dapat disembuhkan dengan urut atau pijat saja. Namun, terapi fisik, termasuk latihan khusus, pemijatan, dan manipulasi manual, dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki postur pada beberapa kasus skoliosis ringan hingga sedang. Namun, terapi fisik ini harus dilakukan oleh profesional medis yang terlatih dalam penanganan.

3. Mengapa skoliosis lebih banyak terjadi pada wanita?

Perkembangan tubuh dan pubertas yang berlangsung lebih cepat pada wanita menjadi pemicu timbulnya scoliosis. Selain itu, hal ini bisa juga disebabkan karena fisik wanita lebih lemah dibanding pria.

4. Apa merek susu bagus untuk penderita scoliosis?

Tidak ada merek susu tertentu yang secara spesifik direkomendasikan untuk penderita skoliosis. Namun, makanan yang mengandung nutrisi penting, termasuk kalsium dan vitamin D, sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang secara umum. Sejumlah jenis susu umumnya dianggap baik karena kandungan kalsiumnya yang tinggi:

  • Susu Sapi: Susu sapi merupakan sumber kalsium yang baik dan juga mengandung vitamin D, yang membantu tubuh dalam menyerap kalsium.
  • Susu Kedelai: Bagi mereka yang intoleran terhadap laktosa atau memiliki alergi susu sapi, susu kedelai bisa menjadi alternatif. Banyak susu kedelai juga diperkaya dengan kalsium dan vitamin D.
  • Susu Almond: Susu almond juga dapat menjadi pilihan untuk mereka yang memiliki intoleransi terhadap laktosa atau alergi susu sapi. Namun, perlu diingat bahwa susu almond umumnya memiliki kandungan kalsium yang lebih rendah daripada susu sapi.
  • Susu Kalsium Tinggi: Beberapa produk susu yang diperkaya dengan tambahan kalsium, seperti susu dengan kalsium tambahan, juga dapat dipertimbangkan.

5. Apa Asupan Nutrisi yang Baik Untuk Pasien Skoliosis?

Nutrisi berperan penting dalam mendukung kesehatan tulang dan otot pada penderita skoliosis. Beberapa jenis makanan dapat memberikan manfaat khusus bagi kesehatan tulang dan otot, seperti yang ditemukan dalam penelitian di Eropa yang menunjukkan hubungan antara progresi skoliosis dengan defisiensi hormon dan kurangnya respon otak terhadap hormon/neurotransmitter.

Defisiensi hormon yang sering terjadi pada skoliosis termasuk serotonin, melatonin, calmodulin, leptin, dan growth hormone. Serotonin, misalnya, penting untuk kontrol postural dinamis tubuh. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien idiopatik skoliosis cenderung memiliki tingkat selenium yang rendah dan tingkat osteopontin (OPN) yang tinggi, yang berperan dalam mengatur pertumbuhan tulang.

Penting untuk memperhatikan asupan nutrisi yang mencukupi, termasuk asam amino dan vitamin B yang merupakan bahan baku neurotransmitter. Suplemen seperti selenium dapat membantu mengurangi tingkat OPN dan memperlambat progresi skoliosis.

Beberapa suplemen lain yang dapat dikonsumsi termasuk suplemen herbal anti peradangan, enzim pencernaan, probiotik, omega-3, kolagen, dan vitamin D3. Ini membantu memperbaiki ketidakseimbangan hormonal dan mendukung terapi skoliosis.

6. Adakah Pantangan Makanan Untuk Skoliosis?

Selain mengonsumsi makanan yang baik, penting juga untuk memperhatikan makanan yang sebaiknya dihindari. Makanan yang mengandung garam tinggi, gula, alkohol, kafein, serta makanan berminyak dan berpengawet dapat menyebabkan defisiensi nutrisi, peradangan, dan penurunan massa tulang.

Pantangan makanan untuk penderita skoliosis termasuk daging babi, alkohol, tepung putih, soda, kacang kedelai, kopi, gula, garam, coklat, makanan berminyak, maupun makanan dengan pengawet dan pemanis buatan.

Untuk mendukung kesehatan tulang dan mengurangi progresi skoliosis, penting untuk memilih makanan yang sehat dan bergizi, serta membatasi makanan yang dapat memperburuk kondisi. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk saran yang sesuai dengan kondisi individual Anda.

7. Apakah Skoliosis Memerlukan Operasi?

Tidak semua kasus skoliosis memerlukan operasi, dan banyak kasus dapat dikelola dengan metode perawatan non-bedah.

Keputusan untuk melakukan operasi pada scoliosis sangat tergantung pada beberapa faktor, termasuk tingkat keparahan, gejala yang dialami oleh pasien, dan respons terhadap perawatan konservatif.

Pertimbangan untuk menentukan apakah operasi Skoliosis diperlukan:

  • Jika kasus dengan kurva yang signifikan, yaitu biasanya di atas 60 derajat.
  • Pada anak-anak atau remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, terutama jika skoliosis meningkat dengan cepat atau mencapai tingkat keparahan tertentu.
  • Jika scoliosis menyebabkan gejala yang signifikan, seperti nyeri yang tidak dapat diatasi dengan perawatan konservatif, atau jika terdapat komplikasi serius seperti gangguan pernapasan, operasi mungkin diindikasikan.
  • Pertimbangan psikologis dan sosial juga dapat memainkan peran, terutama jika memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Pahami juga resiko & efek samping operasi skoliosis dan lebih lengkapnya mengenai spinal fusion surgery dalam artikel ini.

8. Bagaimana posisi duduk yang baik untuk penderita skoliosis?

Berikut adalah beberapa tips tentang posisi duduk yang baik bagi individu yang mengalami skoliosis:

  1. Pilihlah Kursi yang Nyaman: Pastikan kursi yang Anda gunakan memiliki dukungan yang cukup untuk punggung bagian bawah dan bantal yang nyaman untuk mendukung punggung bagian atas.
  2. Pertahankan Postur yang Baik: Cobalah untuk duduk dengan punggung tegak dan bahu rileks. Hindari membungkuk atau melengkungkan punggung Anda, karena ini dapat memperburuk kelengkungan tulang belakang.
  3. Gunakan Bantal Tambahan jika Diperlukan: Jika Anda merasa nyaman, gunakan bantal tambahan di bagian bawah punggung atau di antara punggung dan kursi untuk memberikan dukungan tambahan.
  4. Sesuaikan Tinggi Kursi: Pastikan kursi Anda disesuaikan dengan tinggi yang tepat sehingga kaki Anda bisa bersandar dengan nyaman di lantai tanpa menekuk lutut terlalu tinggi atau terlalu rendah.
  5. Istirahat secara Berkala: Berdiri atau berjalan sebentar setiap 30 menit untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang dan otot.

posisi duduk yang baik untuk skoliosis


Sumber Referensi

  1.  “Scoliosis”Merriam Webster. Archived from the original on 11 August 2016. Retrieved 12 July 2024.
  2.  Weiss HR, Goodall D (August 2008). “Rate of complications in scoliosis surgery – a systematic review of the Pub Med literature”Scoliosis
  3. Rapp van Roden EA, Richardson RT, Russo SA, Rose WC, Nicholson KF, Chafetz RS, et al. (January 2019). “Analysis of Shoulder Complex Function After Posterior Spinal Fusion in Adolescents With Idiopathic Scoliosis“. Journal of Pediatric Orthopedics. 
  4. “Treatment Options | Scoliosis Research Society”. www.srs.org. Retrieved 11 February 2022.
  5.  “Idiopathic Scoliosis – Adult Nonoperative Management”. Scoliosis Research Society. Archived from the original on 1 July 2014. Retrieved 14 May 2024.
  6. “Scoliosis – Treatment in adults”. NHS Choices. 19 February 2013. Archived from the original on 14 May 2014. Retrieved 14 May 2024.

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD merupakan CEO dari Spine Clinic Family Holistic sejak 2006, beliau yang membawa teknik Schroth Best Practice dan Brace GBW ke Indonesia serta telah menuliskan materi ilmiah mengenai tingkat keberhasilan Brace GBW dalam mengobati skoliosis dan keluhannya.