Olahraga padel berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Permainannya terlihat ringan, lapangannya lebih kecil dari tenis, dan banyak orang merasa padel “lebih ramah” untuk pemula. Sayangnya, anggapan ini sering menyesatkan. Salah satu keluhan yang kini makin sering ditemui di klinik ortopedi dan rehabilitasi adalah padel elbow, nyeri siku yang muncul akibat penggunaan lengan berulang saat bermain padel.
Keluhan ini sekilas mirip dengan tennis elbow, tetapi ada beberapa karakteristik khas yang membuat padel elbow perlu dipahami sebagai masalah tersendiri. Tanpa penanganan yang tepat, nyeri yang awalnya ringan bisa berkembang menjadi gangguan aktivitas harian, bahkan membuat pemain harus berhenti olahraga dalam waktu lama.
Dalam Artikel Ini:
Apa Itu Padel Elbow?
Padel elbow adalah kondisi nyeri di area siku yang muncul akibat overuse atau penggunaan berulang otot dan tendon lengan bawah saat bermain padel. Secara medis, keluhan ini paling sering berkaitan dengan iritasi atau peradangan pada tendon yang melekat di sisi luar siku, mirip dengan lateral epicondylitis.
Perbedaannya terletak pada pola gerakan. Dalam padel, pemain melakukan banyak pukulan pendek, reaksi cepat, serta kontrol pergelangan tangan yang intens. Kombinasi ini memberi tekanan terus-menerus pada tendon ekstensor lengan bawah, terutama bila teknik belum optimal atau intensitas bermain meningkat terlalu cepat.
Mengapa Padel Rentan Menyebabkan Cedera Siku?
Banyak pemain baru terkejut ketika siku mulai terasa nyeri, padahal mereka tidak merasa bermain terlalu keras. Hal ini terjadi karena padel memiliki karakteristik biomekanik yang unik.
Pertama, bola padel lebih lambat dibanding tenis, tetapi reli berlangsung lebih lama. Artinya, lengan bekerja terus-menerus tanpa jeda yang cukup. Kedua, ukuran lapangan yang kecil membuat refleks dan gerakan cepat lebih dominan dibanding ayunan panjang. Ketiga, banyak pemain menggunakan pergelangan tangan secara berlebihan untuk mengontrol arah bola, terutama saat bermain di dekat dinding kaca.
Jika otot lengan bawah belum cukup kuat atau belum terbiasa dengan beban tersebut, tendon akan menerima stres berulang yang lama-kelamaan memicu mikrocedera.
Gejala Padel Elbow yang Perlu Diwaspadai
Gejala padel elbow biasanya berkembang perlahan. Pada tahap awal, nyeri sering dianggap sepele dan hanya muncul setelah bermain. Namun seiring waktu, keluhan dapat bertambah berat.
Beberapa gejala yang sering dirasakan antara lain:
- Nyeri di sisi luar siku, terutama saat menggenggam atau memutar pergelangan tangan
- Rasa ngilu saat memegang raket, botol minum, atau membuka pintu
- Kekuatan genggaman tangan menurun
- Nyeri yang menjalar ke lengan bawah
- Rasa tidak nyaman yang menetap meski sudah berhenti bermain
Pada kondisi yang lebih lanjut, nyeri bisa muncul bahkan saat aktivitas ringan seperti mengetik atau mengangkat benda kecil.
Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Padel Elbow?
Padel elbow tidak hanya menyerang atlet profesional. Justru, sebagian besar kasus terjadi pada pemain rekreasional. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain usia di atas 30 tahun, intensitas bermain yang tiba-tiba meningkat, serta kurangnya pemanasan sebelum bermain.
Pemain yang baru mulai padel dan langsung bermain beberapa kali seminggu juga rentan, terutama bila sebelumnya jarang berolahraga. Selain itu, penggunaan raket dengan grip yang tidak sesuai ukuran tangan dapat memperberat beban pada tendon siku.
Riwayat cedera siku sebelumnya atau kelemahan otot lengan bawah juga dapat mempercepat munculnya keluhan.
Apakah Padel Elbow Berbahaya?
Secara umum, padel elbow bukan kondisi yang mengancam nyawa. Namun, jika diabaikan, dampaknya bisa cukup signifikan. Nyeri kronis dapat mengganggu pekerjaan, aktivitas rumah tangga, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Pada beberapa kasus, tendon yang terus mengalami iritasi tanpa pemulihan memadai dapat mengalami degenerasi. Kondisi ini membuat penyembuhan lebih lama dan respons terhadap terapi menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, penanganan sejak dini sangat penting.
Cara Dokter Menegakkan Diagnosis
Diagnosis padel elbow umumnya dapat ditegakkan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan aktivitas olahraga, intensitas bermain padel, serta gerakan apa yang memicu nyeri.
Pemeriksaan biasanya melibatkan tes kekuatan genggaman, gerakan pergelangan tangan, dan penekanan di area tertentu sekitar siku. Pada kasus yang tidak membaik atau dicurigai ada masalah lain, pemeriksaan penunjang seperti USG atau MRI dapat dipertimbangkan untuk melihat kondisi tendon secara lebih detail.
Penanganan Padel Elbow Tanpa Operasi
Sebagian besar kasus padel elbow dapat membaik tanpa tindakan operasi. Pendekatan konservatif menjadi pilihan utama, terutama pada tahap awal.
Istirahat dari aktivitas pemicu adalah langkah pertama. Ini tidak selalu berarti berhenti total dari semua olahraga, tetapi mengurangi atau menghentikan padel sementara waktu hingga nyeri mereda. Kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan inflamasi pada fase akut.
Latihan peregangan dan penguatan otot lengan bawah memiliki peran besar dalam pemulihan. Program latihan yang terarah membantu tendon beradaptasi kembali terhadap beban. Pada beberapa kasus, dokter dapat merekomendasikan penggunaan brace siku untuk mengurangi tekanan saat beraktivitas.
Obat pereda nyeri atau antiinflamasi dapat digunakan sesuai anjuran dokter, terutama bila nyeri mengganggu aktivitas harian.
Peran Fisioterapi dalam Pemulihan
Fisioterapi sering menjadi komponen penting dalam penanganan padel elbow. Terapi tidak hanya bertujuan mengurangi nyeri, tetapi juga memperbaiki pola gerak dan mencegah kekambuhan.
Fisioterapis akan mengevaluasi kekuatan, fleksibilitas, serta teknik gerakan lengan. Latihan eksentrik untuk otot ekstensor lengan bawah sering digunakan karena terbukti membantu proses penyembuhan tendon. Selain itu, edukasi mengenai teknik bermain dan manajemen beban latihan juga sangat krusial.
Kapan Operasi Dibutuhkan?
Operasi jarang diperlukan pada kasus padel elbow. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan bila keluhan tidak membaik setelah berbulan-bulan terapi konservatif yang konsisten.
Tujuan operasi adalah mengangkat jaringan tendon yang rusak dan merangsang proses penyembuhan. Meski tingkat keberhasilannya cukup baik, pemulihan pascaoperasi tetap membutuhkan waktu dan rehabilitasi yang tidak singkat.
Tips Mencegah Padel Elbow Sejak Awal
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Beberapa langkah sederhana dapat membantu menurunkan risiko padel elbow.
Pemanasan sebelum bermain sangat penting untuk menyiapkan otot dan tendon. Gunakan raket dengan ukuran grip yang sesuai dan jangan ragu meminta saran profesional bila perlu. Tingkatkan intensitas bermain secara bertahap, terutama jika Anda baru mulai atau kembali bermain setelah lama berhenti.
Perhatikan teknik pukulan dan hindari terlalu mengandalkan pergelangan tangan. Menguatkan otot lengan bawah secara rutin di luar sesi bermain juga dapat memberikan perlindungan tambahan bagi tendon siku.
Apakah Boleh Tetap Bermain Padel Saat Siku Nyeri?
Pertanyaan ini sering muncul, dan jawabannya bergantung pada tingkat nyeri. Jika nyeri ringan dan tidak bertambah saat bermain, aktivitas mungkin masih bisa dilakukan dengan modifikasi. Namun, bila nyeri menetap, bertambah berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya hentikan sementara dan lakukan evaluasi.
Memaksakan bermain dengan nyeri bukan tanda ketangguhan, melainkan jalan pintas menuju cedera kronis.
Kesimpulan
Padel elbow adalah cedera akibat penggunaan berulang yang semakin sering ditemui seiring meningkatnya popularitas olahraga padel. Meski terlihat ringan, keluhan ini tidak boleh diabaikan. Pemahaman yang baik mengenai gejala, faktor risiko, dan penanganan yang tepat dapat membantu pemulihan lebih cepat dan mencegah kekambuhan.
Dengan pendekatan yang tepat—mulai dari istirahat, latihan yang terarah, hingga perbaikan teknik bermain—sebagian besar penderita padel elbow dapat kembali beraktivitas tanpa nyeri. Jika keluhan tidak membaik, konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah bijak agar cedera tidak berkembang lebih jauh.
