cervical syndrome

Cervical Syndrome

5 mins read

Bangun dengan rasa kaku dan nyeri di leher yang tak kunjung hilang? Atau merasakan nyeri menjalar dari leher ke lengan, membuat aktivitas sehari-hari terasa berat? Anda tidak sendirian. Cervical Syndrome, atau sindrom leher, adalah masalah kesehatan umum yang sering kali diabaikan. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari pekerja kantoran hingga atlet.

Artikel ini mengungkap penyebab, gejala, dan pengobatan sindrom servikal. Mari kita telusuri lebih lanjut dan temukan solusi untuk nyeri leher yang mengganggu.


Apa itu Cervical Syndrome?

Sindrom servikal, atau yang lebih dikenal sebagai sindrom leher, adalah suatu kondisi yang mempengaruhi leher dan menyebabkan berbagai gejala, mulai dari nyeri leher hingga gangguan neurologis.

Leher adalah bagian tubuh yang sangat penting karena menghubungkan kepala dengan tubuh dan melindungi saraf-saraf penting yang mengontrol fungsi tubuh bagian atas. Sindrom servikal sering kali disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cedera, postur yang buruk, degenerasi tulang belakang, dan kondisi medis lainnya.

Anatomi Leher

Leher, atau tulang belakang servikal, terdiri dari tujuh vertebra (C1 hingga C7) yang membentuk bagian atas dari tulang belakang. Vertebra servikal ini lebih kecil dan lebih fleksibel dibandingkan dengan bagian lain dari tulang belakang, memungkinkan gerakan kepala yang luas.

Setiap vertebra dipisahkan oleh diskus intervertebralis yang berfungsi sebagai peredam kejut dan memungkinkan fleksibilitas. Saraf-saraf tulang belakang yang mengontrol gerakan dan sensasi di tubuh bagian atas juga melewati leher.


Gejala Cervical Syndrome

Gejala sindrom servikal dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi masalah pada tulang belakang leher. Berikut adalah beberapa gejala umum yang mungkin muncul:

1. Nyeri Leher

Nyeri yang dapat terasa di bagian belakang leher, sering kali memburuk dengan aktivitas tertentu atau setelah periode istirahat yang lama.

2. Kekakuan Leher

Kesulitan dalam menggerakkan leher, terutama setelah bangun tidur atau setelah periode tidak aktif.

3. Sakit Kepala

Sakit kepala, terutama yang berasal dari leher (cervicogenic headache), bisa dirasakan di bagian belakang kepala atau sekitar pelipis.

4. Nyeri Bahu dan Lengan

Nyeri dapat menjalar dari leher ke bahu, lengan, dan bahkan tangan, tergantung pada saraf yang terkena.

5. Kesemutan atau Mati Rasa

Sensasi kesemutan atau mati rasa di bahu, lengan, atau tangan, yang disebabkan oleh tekanan pada saraf di tulang belakang leher.

6. Kelemahan Otot

Kelemahan pada otot-otot tangan atau lengan yang dapat menyebabkan masalah dalam menggenggam atau mengangkat benda.

7. Kehilangan Keseimbangan

Dalam kasus yang lebih parah, tekanan pada sumsum tulang belakang dapat menyebabkan masalah dengan keseimbangan dan koordinasi.

8. Penurunan Rentang Gerak Leher

Kesulitan atau rasa sakit saat memutar atau menggerakkan leher dalam berbagai arah.

Jika mengalami gejala-gejala ini, penting untuk berkonsultasi dengan profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat. Terapi bisa mencakup obat pereda nyeri, terapi fisik, perubahan gaya hidup, dan dalam beberapa kasus, prosedur bedah.


Penyebab Cervical Syndrome

Berikut adalah beberapa penyebab umum:

1. Penuaan

Seiring bertambahnya usia, tulang belakang servikal mengalami keausan. Diskus di antara tulang belakang dapat mengalami dehidrasi dan penyusutan, yang mengarah pada pertumbuhan tulang berlebih (bone spur) dan perubahan degeneratif lainnya.

2. Penyakit Degeneratif Diskus

Diskus di tulang belakang servikal dapat mengalami kerusakan seiring waktu, kehilangan tinggi dan kemampuannya untuk melindungi tulang belakang, yang menyebabkan nyeri dan kekakuan.

3. Diskus Herniasi

Ketika diskus di tulang belakang servikal pecah, inti dalam yang seperti gel dapat menonjol, menekan sumsum tulang belakang atau akar saraf.

4. Cedera Leher

Trauma atau cedera pada leher, seperti akibat kecelakaan mobil atau jatuh, dapat merusak struktur tulang belakang servikal dan menyebabkan sindrom servikal.

5. Postur Tubuh yang Buruk

Kebiasaan postur tubuh yang buruk, seperti duduk membungkuk atau bekerja dalam posisi yang tidak ergonomis, dapat memberi tekanan tambahan pada tulang belakang servikal, yang menyebabkan degenerasi lebih cepat.

6. Aktivitas Berulang

Pekerjaan atau aktivitas yang melibatkan gerakan leher yang berulang atau mengangkat beban berat dapat mempercepat keausan pada tulang belakang servikal.

7. Genetik

Faktor keturunan juga dapat memainkan peran dalam kecenderungan seseorang untuk mengalami masalah degeneratif pada tulang belakang.


Diagnosis Cervical Syndrome

Diagnosis sindrom servikal biasanya melibatkan beberapa langkah, termasuk pemeriksaan fisik, riwayat medis, dan berbagai tes diagnostik. Berikut adalah proses yang umum dilakukan:

1. Riwayat Medis

  • Pertanyaan Dokter: Dokter akan menanyakan tentang gejala yang dirasakan, kapan mulai muncul, aktivitas atau posisi tertentu yang memperburuk atau meringankan gejala, serta riwayat cedera atau penyakit lain.
  • Riwayat Keluarga: Informasi mengenai riwayat kesehatan keluarga juga mungkin ditanyakan untuk mengetahui adanya faktor genetik yang berkontribusi.

2. Pemeriksaan Fisik

  • Inspeksi dan Palpasi: Dokter akan memeriksa leher untuk melihat tanda-tanda kekakuan, pembengkakan, atau kelainan bentuk. Dengan palpasi, mereka bisa merasakan adanya nyeri atau spasme otot.
  • Tes Gerakan: Dokter akan meminta pasien untuk menggerakkan leher dalam berbagai arah untuk melihat sejauh mana rentang geraknya dan apakah ada nyeri yang terkait.
  • Tes Neurologis: Meliputi pemeriksaan refleks, kekuatan otot, dan sensasi pada lengan dan tangan untuk mendeteksi adanya kerusakan atau kompresi saraf.

3. Tes Pencitraan

  • Sinar-X: Dapat menunjukkan perubahan degeneratif pada tulang belakang servikal seperti penyempitan ruang diskus, pembentukan bone spur, atau perubahan pada struktur tulang.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging): Memberikan gambaran detail mengenai jaringan lunak, termasuk diskus intervertebralis, sumsum tulang belakang, dan saraf. MRI sangat berguna untuk mendeteksi herniasi diskus atau kompresi saraf.
  • CT Scan (Computed Tomography): Memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai struktur tulang dibandingkan sinar-X, terutama jika ada kecurigaan patah tulang atau kelainan lainnya.
  • Myelogram: Prosedur ini melibatkan penyuntikan zat kontras ke dalam kanal tulang belakang untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas mengenai sumsum tulang belakang dan saraf menggunakan sinar-X atau CT scan.

4. Tes Elektrofisiologi

  • EMG (Elektromiografi): Mengukur aktivitas listrik di otot untuk mengetahui adanya kerusakan atau gangguan pada saraf yang mengendalikan otot tersebut.
  • Nerve Conduction Study: Mengukur kecepatan dan kekuatan sinyal listrik yang bergerak melalui saraf untuk mendeteksi adanya kerusakan saraf.

5. Tes Laboratorium

  • Tes Darah: Meskipun tidak langsung mendiagnosis sindrom servikal, tes darah dapat membantu menyingkirkan kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala serupa, seperti infeksi atau penyakit autoimun.

Setelah mengumpulkan informasi dari riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan hasil tes diagnostik, dokter akan menganalisis semua data untuk menentukan apakah pasien menderita sindrom servikal dan menentukan tingkat keparahannya. Diagnosis yang tepat memungkinkan dokter untuk merancang rencana perawatan yang paling efektif, yang dapat mencakup pengobatan medis, terapi fisik, dan dalam beberapa kasus, pembedahan.


Pengobatan Cervical Syndrome

Pengobatan sindrom servikal tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala. Pendekatan pengobatan dapat mencakup:

1. Terapi Fisik

Latihan peregangan dan penguatan berfokus pada otot leher dan bahu serta penguatan otot inti dan punggung untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fleksibilitas. Seorang fisioterapis akan merancang program latihan khusus yang sesuai dengan kebutuhan individu. Selain itu, terapi manual seperti manipulasi tulang belakang yang dilakukan oleh fisioterapis dapat membantu meningkatkan mobilitas, mengurangi kekakuan, dan mengurangi nyeri leher. Memperbaiki postur dan ergonomi di tempat kerja atau saat melakukan aktivitas sehari-hari juga sangat penting untuk mengurangi tekanan pada leher dan mencegah cedera lebih lanjut.

2. Panas dan Dingin

Menggunakan kompres panas dapat membantu mengurangi kekakuan otot dan meningkatkan aliran darah ke daerah yang terkena, sementara kompres dingin dapat mengurangi pembengkakan dan nyeri. Kedua metode ini dapat digunakan secara bergantian atau sesuai dengan kondisi yang lebih efektif bagi individu.

3. Penggunaan Alat Bantu

Penggunaan penopang leher (collar) untuk sementara waktu dapat membantu memberikan istirahat pada otot dan struktur leher, mengurangi nyeri, dan memungkinkan proses penyembuhan berlangsung lebih baik.

4. Obat-obatan

Analgesik seperti parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk mengurangi nyeri. Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti naproksen atau diklofenak juga efektif untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Relaksan otot seperti cyclobenzaprine dapat membantu mengurangi spasme otot. Dalam beberapa kasus, antidepresan trisiklik seperti amitriptyline atau obat neuropatik seperti gabapentin atau pregabalin dapat diresepkan untuk mengelola nyeri yang disebabkan oleh iritasi saraf.

5. Injeksi

Injeksi steroid dapat diberikan langsung ke area yang terkena untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Selain itu, injeksi anestesi lokal dapat digunakan untuk mematikan rasa pada area tertentu dan mengurangi nyeri.

6. Prosedur Bedah

Dalam kasus yang parah, prosedur bedah mungkin diperlukan. Disektomi, yaitu pengangkatan bagian dari diskus yang herniasi untuk mengurangi tekanan pada saraf, atau laminektomi, yaitu pengangkatan sebagian dari tulang belakang untuk memperluas kanal tulang belakang, dapat dilakukan. Fusi tulang belakang (spinal fusion) juga dapat dilakukan untuk menyatukan dua atau lebih vertebra untuk memberikan stabilitas tambahan pada tulang belakang.

7. Aktivitas Fisik Reguler

Olahraga seperti berjalan atau berenang yang ringan dapat meningkatkan kebugaran umum dan kesehatan tulang belakang. Latihan yoga dan pilates yang mengkombinasikan peregangan dan penguatan otot juga bermanfaat.

8. Pola Hidup Sehat

Menjaga berat badan ideal dapat mengurangi tekanan pada tulang belakang. Berhenti merokok juga penting karena merokok dapat mempercepat degenerasi diskus tulang belakang.

9. Akupunktur

Menggunakan jarum-jarum halus yang dimasukkan ke titik-titik tertentu pada tubuh, akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan aliran energi dalam tubuh.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kesehatan untuk menentukan rencana pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan individu. Kombinasi dari berbagai terapi sering kali diperlukan untuk mencapai hasil terbaik dalam mengelola sindrom servikal.

dr. Regina Varani

dr. Regina Varani adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya pada tahun 2015. Ia meyakini bahwa kesehatan adalah dasar utama untuk menjalani hidup yang produktif dan bahagia. Ia juga mengambil sertifikasi tulang belakang, ilmu akupuntur serta estetik dan gizi agar dapat menangani berbagai permasalahan kesehatan secara holistik.