Sebagai orang tua, perhatian kita biasanya tertuju pada makan, tidur, dan kemampuan motorik anak. Jarang sekali kita memikirkan tulang belakang mereka—padahal tulang belakang yang sehat sangat penting untuk postur, keseimbangan, dan kenyamanan sehari-hari. Skoliosis, kelainan tulang belakang yang membentuk kurva ke samping, memang identik dengan remaja. Namun, kenyataannya, kondisi ini bisa muncul lebih dini, bahkan pada batita.
Meskipun kasusnya jarang, skoliosis pada usia dini membutuhkan perhatian ekstra. Tulang yang masih lunak dan pertumbuhan yang cepat bisa membuat kurva tulang berkembang dengan cepat. Deteksi sejak awal, perawatan yang tepat, dan dukungan orang tua menjadi kunci agar tulang belakang anak tetap sehat.

Dalam Artikel Ini:
Skoliosis pada batita, apakah mungkin terjadi?
Skoliosis pada batita disebut infantile scoliosis. Kondisi ini muncul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Banyak orang tua tidak menyadarinya karena gejalanya halus dan anak masih aktif seperti biasa. Misalnya, anak tetap bisa berjalan, bermain, dan makan seperti anak sehat pada umumnya.
Yang membedakan skoliosis dini dengan yang muncul pada remaja adalah kecepatan perkembangan kurva tulang. Karena tulang masih lunak, kurva ringan bisa berkembang menjadi lebih jelas dalam waktu singkat.
Dampak Skoliosis Pada Batita
Skoliosis pada batita memang jarang, tapi dampaknya bisa signifikan jika tidak ditangani sejak dini. Berikut beberapa dampak utama yang perlu orang tua waspadai:
1. Gangguan postur dan pertumbuhan tulang
Kurva tulang belakang yang muncul bisa membuat postur anak menjadi tidak seimbang. Bahu atau pinggul bisa tampak miring, dan jika dibiarkan, tulang belakang bisa berkembang semakin melengkung seiring pertumbuhan. Hal ini juga dapat memengaruhi tinggi badan atau simetri tubuh secara keseluruhan.
2. Kelemahan otot dan masalah motorik
Skoliosis membuat otot-otot penopang tulang belakang bekerja tidak optimal. Otot punggung dan inti tubuh mungkin menjadi lemah, sehingga kemampuan motorik halus dan kasar anak—seperti berjalan, merangkak, atau bermain aktif—bisa sedikit terganggu.
3. Risiko nyeri atau ketidaknyamanan
Pada batita, nyeri mungkin belum terlihat karena anak belum bisa mengungkapkan rasa sakit dengan jelas. Namun, seiring waktu dan pertumbuhan kurva, anak bisa mulai mengalami ketegangan otot, rasa tidak nyaman saat duduk atau berjalan, dan postur yang lelah lebih cepat.
4. Dampak pada fungsi organ (jarang, tapi serius)
Jika kurva tulang belakang cukup parah dan melibatkan tulang punggung bagian tengah atau bawah, hal ini bisa menekan paru-paru atau jantung, sehingga memengaruhi pernapasan atau sirkulasi darah. Meskipun kasus ini jarang pada batita, tetap perlu diwaspadai.
5. Dampak psikologis dan sosial
Anak yang tumbuh dengan postur miring atau menggunakan brace mungkin merasa berbeda dari teman sebayanya. Jika tidak diberi dukungan emosional, anak bisa merasa minder atau enggan ikut bermain aktif.
Penyebab skoliosis pada batita
Skoliosis pada anak usia dini bisa disebabkan oleh beberapa hal:
-
Kongenital (bawaan lahir): Tulang belakang tidak terbentuk sempurna sejak lahir. Beberapa anak memiliki vertebra yang menyatu sebagian atau berbentuk tidak normal.
-
Idiopatik: Penyebab tidak diketahui. Anak tampak sehat, tetapi kurva tulang belakang tetap muncul.
-
Neuromuskular: Kelainan saraf atau otot yang memengaruhi tulang belakang. Contohnya cerebral palsy atau spina bifida. Dalam kasus ini, otot penopang tulang belakang tidak bekerja optimal sehingga tulang lebih mudah melengkung.
Mengetahui penyebabnya penting karena menentukan strategi penanganan yang tepat.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan orang tua
Mendeteksi skoliosis pada batita memang sulit karena anak belum bisa menyampaikan keluhan. Orang tua perlu jeli mengamati hal-hal berikut:
-
Bahu atau pinggul tampak tidak sejajar
-
Salah satu sisi punggung menonjol saat anak membungkuk
-
Anak cenderung condong ke satu sisi saat berdiri atau berjalan
-
Baju terlihat miring saat dipakai
Tip praktis: Ambil foto anak dari belakang secara rutin, terutama saat duduk atau berdiri. Perubahan kecil bisa terlihat lebih jelas di foto daripada mata telanjang.
Bagaimana dokter memeriksa skoliosis pada batita?
Pemeriksaan biasanya sederhana tapi efektif:
-
Pemeriksaan fisik: Dokter menilai simetri tubuh, postur saat berdiri dan duduk.
-
Tes membungkuk ke depan (forward bend test): Tonjolan di punggung dapat terlihat.
-
Pencitraan: Jika kurva terlihat signifikan, dokter bisa meminta X-ray atau MRI untuk menilai derajat kelengkungan tulang belakang.
Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter menentukan apakah anak hanya perlu pemantauan, fisioterapi, atau penggunaan brace khusus.
Peran orang tua di rumah: Lebih dari sekadar membawa anak ke dokter
Selain perawatan medis, orang tua memiliki peran besar untuk mendukung pertumbuhan tulang dan mencegah kurva memburuk:
Nutrisi yang mendukung tulang
Tulang memerlukan “bahan bakar” agar tetap kuat. Pastikan anak mendapat:
-
Kalsium dan vitamin D: Susu, yoghurt, keju, telur, ikan, serta sinar matahari pagi.
-
Protein dan mineral penting: Daging, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau.
Nutrisi yang cukup membantu tulang dan otot penopang tulang belakang tetap kuat.
Aktivitas fisik yang aman dan menyenangkan
Batita perlu bergerak setiap hari. Bermain aktif, merangkak, atau berjalan di halaman membantu otot punggung bekerja optimal. Aktivitas fisik ringan juga membuat anak lebih fleksibel, memperkuat postur, dan mendukung perkembangan tulang.
Hindari aktivitas ekstrem yang bisa membebani tulang belakang, tapi jangan membuat anak terlalu pasif.
Mengawasi postur sehari-hari
Postur yang baik sejak dini bisa membantu mencegah kurva memburuk. Beberapa tips sederhana:
-
Pastikan anak duduk dengan punggung tegak, bukan miring ke satu sisi
-
Gunakan kasur yang rata dan nyaman
-
Bermain dengan posisi yang bervariasi, bukan selalu condong ke satu sisi
Perubahan kecil ini membantu tulang belakang dan otot tetap seimbang.
Dukungan emosional: Membuat anak nyaman
Brace atau latihan fisik bisa membuat anak merasa canggung. Orang tua bisa membantu dengan:
-
Menjadikan latihan sebagai permainan
-
Membiarkan anak memilih baju atau posisi brace agar nyaman
-
Memberikan pujian dan motivasi setiap kali anak mengikuti saran dokter
Dukungan emosional membuat anak lebih kooperatif dan meningkatkan efektivitas perawatan.
Contoh latihan ringan harian untuk batita
Berikut beberapa latihan sederhana yang aman:
-
Bermain merangkak: Menguatkan otot inti dan punggung.
-
Berdiri dan berjalan di garis lurus: Melatih keseimbangan dan postur.
-
Permainan bola kecil: Anak menekuk, merentangkan, dan bergerak aktif.
Latihan ini bisa dilakukan 15–20 menit sehari, dijadikan bagian dari aktivitas bermain anak.
Kapan harus segera ke dokter?
Segera konsultasikan jika ada perubahan signifikan:
-
Kurva tulang terlihat jelas saat membungkuk atau berdiri tegak
-
Bahu atau pinggul tampak asimetris
-
Anak sering condong ke satu sisi tanpa alasan jelas
-
Perubahan postur terlihat cepat dalam waktu singkat
Deteksi dini meningkatkan kemungkinan kurva bisa dikontrol tanpa intervensi bedah.
Nutrisi harian yang mendukung tulang
Berikut contoh menu harian sederhana untuk mendukung pertumbuhan tulang batita:
-
Sarapan: Susu atau yoghurt dengan buah potong, roti gandum.
-
Camilan pagi: Kacang-kacangan atau telur rebus.
-
Makan siang: Ikan panggang, sayuran hijau, nasi atau kentang.
-
Camilan sore: Smoothie buah dengan susu.
-
Makan malam: Sup ayam dengan wortel dan brokoli, nasi atau pasta.
Hindari makanan tinggi gula dan minuman bersoda karena dapat mengganggu penyerapan kalsium.

