Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid Arthritis

4 mins read

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang sendi dan jaringan di sekitarnya. Berbeda dengan nyeri sendi biasa, RA bisa menyebabkan kerusakan sendi permanen, cacat, hingga menurunkan kualitas hidup. Dalam artikel ini, kita akan membahas tuntas mengenai rheumatoid arthritis: mulai dari penyebab, gejala, diagnosis, hingga perawatan dan strategi hidup sehat untuk mengontrol kondisi ini.


Apa Itu Rheumatoid Arthritis?

Rheumatoid Arthritis adalah kondisi peradangan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendiri—terutama sinovium, yaitu lapisan tipis di sekitar sendi. Akibatnya, terjadi radang kronis yang merusak tulang rawan dan tulang di bawahnya secara perlahan.

RA biasanya menyerang sendi kecil seperti jari tangan, pergelangan tangan, dan kaki. Namun dalam kasus yang lebih lanjut, RA bisa menyebar ke organ lain seperti mata, paru-paru, jantung, dan pembuluh darah.


Penyebab Rheumatoid Arthritis

Belum diketahui secara pasti apa yang memicu sistem imun menyerang jaringan sendiri, tetapi ada sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami RA:

1. Genetik

  • Mutasi pada gen HLA-DR4 dan HLA-DR1 diketahui meningkatkan risiko.
  • Riwayat keluarga dengan RA juga meningkatkan kemungkinan.

2. Jenis Kelamin

  • Wanita 2–3 kali lebih sering terkena RA dibanding pria. Ini diduga berkaitan dengan pengaruh hormon estrogen terhadap sistem imun.

3. Usia

  • RA paling sering muncul di usia 30–60 tahun, tetapi bisa juga terjadi di usia lebih muda (Juvenile RA) atau di atas 60 tahun (Late-onset RA).

4. Infeksi dan Faktor Lingkungan

  • Paparan asap rokok, polusi, atau infeksi virus dan bakteri tertentu dapat memicu RA pada individu yang rentan secara genetik.

5. Gaya Hidup

  • Merokok, obesitas, dan stres kronis diketahui memperburuk kondisi RA.


Gejala Rheumatoid Arthritis

Gejala Rheumatoid Arthritis (RA) bisa berkembang secara bertahap selama beberapa minggu hingga bulan, atau muncul secara mendadak. Penyakit ini termasuk kondisi autoimun kronis yang menyerang lapisan sendi, sehingga menimbulkan peradangan sistemik. Gejalanya seringkali bersifat simetris, artinya mempengaruhi kedua sisi tubuh secara bersamaan — misalnya kedua pergelangan tangan atau kedua lutut.

apa saja gejala Rheumatoid Arthritis

Gejala Awal yang Umum

Pada tahap awal, banyak penderita RA mengeluhkan gejala ringan yang kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau nyeri sendi karena aktivitas fisik. Berikut beberapa gejala khas yang perlu diwaspadai:

  • Nyeri sendi yang simetris
    Rasa nyeri biasanya terasa di sendi kecil seperti jari tangan, pergelangan tangan, kaki, dan pergelangan kaki. Nyeri ini bisa terasa tumpul atau tajam, dan cenderung memburuk setelah periode tidak aktif, seperti setelah bangun tidur.

  • Kekakuan sendi di pagi hari
    Salah satu gejala paling khas dari RA adalah kekakuan sendi yang berlangsung lebih dari 30 menit di pagi hari. Kekakuan ini membuat aktivitas pagi seperti menggenggam benda, menyisir rambut, atau berjalan terasa sulit.

  • Bengkak dan kemerahan pada sendi
    Sendi yang mengalami peradangan akan tampak bengkak, terasa hangat saat disentuh, dan terlihat kemerahan. Kondisi ini dapat menyebabkan keterbatasan gerak.

  • Kelelahan kronis (fatigue)
    Rasa lelah yang ekstrem bisa terjadi bahkan tanpa aktivitas berat. Ini merupakan gejala sistemik dari proses inflamasi tubuh yang aktif.

  • Demam ringan tanpa sebab jelas
    Karena RA adalah penyakit autoimun, tubuh bisa mengalami demam ringan sebagai respons dari sistem imun yang berlebihan, meskipun tidak ada infeksi.

  • Penurunan berat badan yang tidak direncanakan
    Peradangan kronis bisa mempercepat metabolisme dan menurunkan nafsu makan, yang akhirnya menyebabkan penurunan berat badan.


Gejala Lanjutan Jika Tidak Diobati

Tanpa pengobatan dan penanganan yang tepat, Rheumatoid Arthritis dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih berat dan menyebabkan kerusakan permanen pada struktur sendi. Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi meliputi:


  • Deformitas sendi permanen
    Sendi yang terus-menerus mengalami peradangan dapat berubah bentuk. Misalnya, jari tangan bisa membengkok ke arah samping atau ke bawah dalam posisi abnormal (seperti deformitas boutonniere atau swan neck deformity), sehingga fungsinya terganggu.

  • Fusi tulang sendi (ankilosis)
    Dalam beberapa kasus, dua tulang pada sendi bisa menyatu akibat inflamasi kronis. Kondisi ini disebut ankilosis, yang menyebabkan sendi menjadi kaku total dan tidak bisa digerakkan.

  • Hilangnya fungsi sendi secara permanen
    Kerusakan pada kartilago, tulang, dan jaringan sekitarnya bisa menyebabkan hilangnya fungsi sendi, sehingga pasien kesulitan melakukan aktivitas harian seperti berjalan, menulis, atau memegang benda.

  • Nodul reumatoid
    Beberapa penderita RA mengalami benjolan kecil di bawah kulit yang disebut nodul reumatoid. Ini biasanya muncul di area yang sering mengalami tekanan, seperti siku, dan bisa menjadi tanda RA yang lebih aktif.

  • Gejala sistemik lainnya
    Selain sendi, RA juga bisa memengaruhi organ lain seperti paru-paru, jantung, dan mata. Ini termasuk peradangan pada selaput paru (pleuritis), perikardium (perikarditis), serta mata kering dan nyeri (sindrom Sjögren sekunder).

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda mengalami kekakuan sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit, disertai nyeri dan pembengkakan sendi secara simetris, segera konsultasikan ke dokter spesialis reumatologi. Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan sendi permanen dan komplikasi sistemik lainnya.


Rheumatoid Nodules dan Komplikasi Lain

Beberapa penderita RA akan mengalami rheumatoid nodules—benjolan keras di bawah kulit, biasanya di siku atau jari. Selain itu, RA juga bisa menimbulkan komplikasi sistemik, seperti:

  • Perikarditis atau radang jantung
  • Fibrosis paru-paru
  • Mata kering atau peradangan mata
  • Vasculitis (radang pembuluh darah)
  • Anemia kronis

Diagnosis Rheumatoid Arthritis

Diagnosis RA harus dilakukan oleh dokter spesialis reumatologi dengan pendekatan multidisiplin. Pemeriksaan meliputi:

1. Pemeriksaan Fisik

  • Deteksi sendi nyeri, bengkak, keterbatasan gerak, dan gejala sistemik.

2. Tes Laboratorium

  • RF (Rheumatoid Factor): positif pada 70–80% kasus.
  • Anti-CCP (Anti-cyclic citrullinated peptide): lebih spesifik dan akurat dibanding RF.
  • ESR & CRP: menilai tingkat inflamasi.
  • Darah lengkap: untuk memantau anemia atau infeksi.

3. Imaging (Pencitraan)

  • X-ray: untuk melihat erosi tulang dan celah sendi.
  • MRI/USG: deteksi dini sinovitis dan kerusakan jaringan lunak.

4. Kriteria Diagnosis ACR/EULAR

Diagnosis ditegakkan jika nilai kumulatif ≥6 berdasarkan kombinasi gejala, hasil lab, dan pencitraan.


Perbedaan RA dengan Osteoarthritis

Aspek Rheumatoid Arthritis Osteoarthritis
Penyebab Autoimun Degeneratif (penuaan)
Umur 30–60 tahun >50 tahun
Pola serangan Simetris Asimetris
Kekakuan pagi >30 menit <30 menit
Radang sistemik Ya Tidak
Target jaringan Sinovium, organ lain Tulang rawan

Pengobatan Rheumatoid Arthritis

RA tidak dapat disembuhkan total, tetapi dengan pengobatan yang tepat, peradangan dapat dikendalikan dan kerusakan sendi dapat dicegah.

1. Obat Anti-Inflamasi

  • NSAID (ibuprofen, naproxen): mengurangi nyeri dan pembengkakan, tapi tidak memperlambat progresi RA.
  • Kortikosteroid (prednison): digunakan pada flare akut, dosis diturunkan bertahap.

2. DMARDs (Disease-Modifying Anti-Rheumatic Drugs)

Obat lini pertama yang menarget proses autoimun, contohnya:

  • Methotrexate (obat utama),
  • Sulfasalazine,
  • Leflunomide,
  • Hydroxychloroquine.

3. Biologic Agents

Jika RA tidak membaik dengan DMARDs konvensional:

  • Anti-TNF (etanercept, infliximab, adalimumab)
  • IL-6 inhibitor (tocilizumab)
  • JAK inhibitor (tofacitinib, baricitinib)

Biologic bekerja secara spesifik pada komponen imun, tapi perlu pengawasan ketat karena risiko infeksi.


Terapi Tambahan untuk Mendukung Perawatan RA

Fisioterapi dan Terapi Okupasi

  • Melatih sendi tetap fleksibel dan memperkuat otot pendukung.
  • Menyesuaikan aktivitas harian untuk mencegah nyeri.

Diet Anti-Inflamasi

  • Konsumsi: ikan berlemak, sayur hijau, buah beri, minyak zaitun.
  • Kurangi: gula, daging olahan, alkohol, makanan ultra-proses.

Manajemen Stres

  • Meditasi, yoga, atau konseling sangat membantu mengurangi flare.

Suplemen yang Disarankan (dengan konsultasi dokter):

  • Omega-3
  • Vitamin D
  • Curcumin (anti-inflamasi alami)

Komplikasi Jangka Panjang RA

Tanpa pengobatan yang tepat, RA dapat menyebabkan:

  • Deformitas sendi permanen
  • Disabilitas dan kehilangan kemampuan bekerja
  • Osteoporosis (akibat RA dan obat kortikosteroid)
  • Penyakit jantung
  • Depresi dan gangguan kecemasan

Tips Hidup Sehat dengan Rheumatoid Arthritis

  • Ikuti pengobatan rutin meski gejala membaik.
  • Catat flare dan pola makanan/aktivitas yang memicunya.
  • Tidur cukup 7–9 jam per hari.
  • Aktif secara fisik minimal 30 menit, 5x seminggu (jalan kaki, berenang, senam ringan).
  • Bergabung dengan support group RA online atau komunitas lokal.

Kesimpulan

Rheumatoid Arthritis adalah penyakit autoimun serius yang membutuhkan penanganan dini dan berkelanjutan. Meskipun belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan, terapi modern dan gaya hidup sehat terbukti efektif untuk mengontrol gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Dengan pemahaman yang benar dan dukungan dari keluarga serta tenaga medis, penderita RA tetap bisa hidup aktif, mandiri, dan berdaya.

dr. Regina Varani

dr. Regina Varani adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya pada tahun 2015. Ia meyakini bahwa kesehatan adalah dasar utama untuk menjalani hidup yang produktif dan bahagia. Ia juga mengambil sertifikasi tulang belakang, ilmu akupuntur serta estetik dan gizi agar dapat menangani berbagai permasalahan kesehatan secara holistik.