Pectus Carinatum pigeon chest

Pectus Carinatum

5 mins read

Apakah Anda pernah melihat seseorang dengan dada yang terlihat menonjol ke depan secara tidak normal seperti gambar diatas? Kelainan tulang ini adalah Pectus carinatum, juga dikenal sebagai pigeon chest atau dada burung.

Kondisi ini dapat memengaruhi penampilan fisik seseorang dan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan masalah pernapasan atau ketidaknyamanan. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi pectus carinatum dengan lebih detail, termasuk penyebab, gejala, diagnosis, pengobatan, dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.


Apa itu Pectus Carinatum?

Pectus carinatum ( pigeon chest / dada burung ) adalah kelainan tulang dada di mana sternum atau tulang dada tengah menonjol ke depan, menciptakan penampilan dada yang menonjol atau menyerupai bentuk dada burung merpati.

bentuk dada pigeon chest
Bentuk dada pigeon chest

Pectus carinatum merupakah kebalikan dari Pectus Excavatum yang merupakan kondisi tulang dada yang cekung ke dalam.

Pigeon chest adalah kelainan kongenital, yang berarti kondisi ini hadir sejak lahir, meskipun bisa terjadi juga akibat pertumbuhan yang tidak normal selama masa remaja.

Tahukah Kamu?

Pigeon chest tergolong jarang, yaitu ditemukan pada sekitar 1 dari setiap 1,500 anak. Menariknya, jumlah penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, dengan rasio sekitar 4:1.


Gejala Pectus Carinatum

Gejala pectus carinatum seringkali mulai muncul pada usia 10 hingga 14 tahun, ketika pertumbuhan tubuh sedang mengalami masa pesatnya. Namun, ada juga kasus di mana kelainan ini dapat terdeteksi oleh orangtua sejak bayi baru lahir, dan menjadi semakin jelas saat anak mencapai usia 2 tahun.

Gejala pun bervariasi dari kasus ke kasus dan dapat berkisar dari ringan hingga parah. Beberapa gejala yang umum termasuk:

1. Penampilan Fisik yang Tidak Biasa

Dada yang menonjol ke depan adalah ciri khas pectus carinatum, yang memberikan penampilan yang menyerupai dada burung merpati.

2. Masalah Pernapasan

Pada beberapa kasus yang lebih parah, pectus carinatum dapat menyebabkan masalah pernapasan, terutama saat melakukan aktivitas fisik.

Beberapa penderita mengalami keluhan yang mungkin disebabkan oleh dada yang menonjol keluar dan kaku, sehingga menyebabkan otot pernapasan tambahan harus bekerja lebih keras secara terus-menerus.

Hal ini dapat menyebabkan kelelahan dan mengganggu pertukaran gas yang efisien di paru-paru. Gejala yang mungkin timbul sebagai akibat kondisi ini meliputi napas yang dangkal, terutama saat melakukan aktivitas berat, peningkatan denyut nadi, nyeri dada, dan mudah merasa lelah.

Pectus carinatum juga menyebabkan adanya peningkatan frekuensi serangan asma dan infeksi saluran nafas pada kasus yang lebih parah hingga berat.

3. Ketidaknyamanan atau Nyeri

Beberapa individu dengan pectus carinatum mungkin mengalami ketidaknyamanan atau nyeri di dada, terutama saat tumbuh cepat selama masa remaja.

Dampak Pectus Carinatum pada Kehidupan Sehari-hari

Pectus carinatum dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan pada individu, terutama pada masa remaja ketika penampilan fisik sering menjadi perhatian utama. Ini dapat menyebabkan masalah percaya diri atau masalah emosional lainnya.


Penyebab Pectus Carinatum

Penyebab pasti pectus carinatum belum sepenuhnya dipahami. Namun, ada beberapa faktor yang diyakini berkontribusi terhadap pengembangan kondisi ini, termasuk:

1. Faktor Genetik

Pectus carinatum dapat memiliki basis genetik, dengan bukti bahwa kondisi ini cenderung terjadi dalam keluarga.

2. Pertumbuhan Tulang yang Tidak Normal

Pertumbuhan abnormal tulang rawan pada tulang dada selama masa remaja juga dapat menyebabkan terjadinya pectus carinatum.

3. Tekanan Janin pada Masa Kandungan

Beberapa teori menunjukkan bahwa tekanan pada janin dalam kandungan, seperti tekanan yang dihasilkan oleh pembesaran uterus, bisa berkontribusi terhadap perkembangan pectus carinatum.


Diagnosis & Jenis Pectus Carinatum

Diagnosis pectus carinatum biasanya dilakukan oleh seorang dokter berdasarkan pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien. Tes tambahan seperti sinar-X dada atau CT scan mungkin diperlukan untuk mengevaluasi tingkat keparahan dan dampak kondisi pada organ dalam.

Ada dua tipe utama pectus carinatum yang dibedakan berdasarkan letaknya: Chondrogladiolar dan Chondromanubrial, yang mempengaruhi kelompok tulang rusuk dengan cara yang berbeda.

  • Pada tipe Chondrogladiolar, penonjolan terjadi pada kelompok tulang rusuk bagian tengah hingga bawah. Sebagian besar kasus pectus carinatum, sekitar 95%, masuk ke dalam kategori ini. Tipe ini cenderung lebih mudah untuk dikoreksi karena struktur tulang yang lebih panjang dan lentur, memberikan harapan yang lebih baik untuk hasil yang sukses.
  • Sementara itu, pada tipe Chondromanubrial, penonjolan terjadi pada kelompok tulang rusuk bagian atas, dan seringkali simetris antara sisi kanan dan kiri. Tipe ini lebih sulit untuk dikoreksi karena tulang rusuk pada bagian ini lebih pendek dan kaku secara alami, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dan prosedur yang lebih rumit.

Pengobatan Pectus Carinatum

Perawatan untuk pectus carinatum tergantung pada tingkat keparahan dan gejala yang dialami oleh individu. Beberapa opsi perawatan meliputi:

1. Fisioterapi dan Latihan Fisik

Melakukan latihan fisik sendiri, tanpa bantuan terapi lainnya, mungkin hanya efektif pada kasus-kasus pigeon chest yang ringan. Latihan fisik untuk pigeon chest bertujuan untuk melatih otot di sekitar tonjolan dada agar tampilannya bisa tersamarkan.

Tujuan dari terapi fisik untuk pigeon chest meliputi:

  • Meningkatkan kelenturan jaringan ikat di dada yang kaku.
  • Memperbaiki fleksibilitas gerakan dinding dada dan tulang belakang.
  • Memperkuat otot yang diperlukan untuk perkembangan dada.
  • Mengembalikan dan memelihara postur tubuh yang ideal.
  • Meningkatkan serta menjaga fungsi paru-paru.

Berikut ini beberapa contoh latihan yang dapat dilakukan di rumah untuk penderita pigeon chest. Setiap gerakan ini bisa diulang sebanyak 30 kali dalam sehari. Namun, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau terapis untuk menyesuaikan latihan sesuai dengan kebutuhan Anda.

Standing Shoulder Horizontal Abduction with Resistance

latihan untuk Pectus Carinatum

Berdiri tegak sambil memegang pita resistensi dengan kedua tangan. Tarik kedua tangan ke samping hingga sejajar dan membentuk garis lurus, lalu kembalikan ke posisi awal. Pastikan untuk menjaga tangan tetap sejajar dengan bahu. Anda akan merasakan tulang belikat seperti terjepit saat melakukan gerakan ini.

Standing Scapular Retraction

senam untuk pectus carinatum

Berdiri tegak dengan kedua lengan menggantung di samping tubuh. Kemudian, dorong kedua bahu ke belakang sehingga tulang belikat mendekat satu sama lain, lalu kembali ke posisi awal.

Plank

gerakan plank

Mulailah dengan berbaring telungkup, lalu angkat seluruh tubuh Anda sambil menopang diri dengan siku dan kaki bagian depan. Tahan posisi tersebut beberapa saat, kemudian kembali ke posisi telungkup untuk beristirahat.

Bird Dog

bird dog exercise

Tempatkan tubuh Anda dalam posisi yang mirip dengan akan merangkak, dengan tangan diletakkan di lantai sejajar dengan bahu. Angkat dan luruskan satu lengan dan satu kaki dari sisi yang berlawanan sehingga sejajar dengan tubuh. Tahan posisi ini selama beberapa detik, kemudian kembalikan ke posisi awal.

Kneeling Push Up

Kneeling Push Up

Lakukan gerakan push-up dengan lutut tetap menyentuh lantai. Perlahan turunkan dada dan perut hingga menyentuh lantai, lalu angkat badan Anda kembali seperti melakukan push-up.

2. Terapi Ortotik

Anak-anak yang mengalami pigeon chest dengan tingkat keparahan sedang hingga berat dapat menjalani terapi dengan menggunakan alat bantu. Salah satu contoh alat yang umum digunakan adalah chest wall brace.

chest wall brace untuk pigeon chest

Alat bantu khusus ini dipakai untuk memberikan tekanan ringan pada dada, yang bertujuan untuk membentuk dan mengubah posisi tulang-tulang di bagian dada. Sebelum menggunakan alat ini, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna memastikan pemilihan brace yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Pemakaian chest wall brace biasanya dilakukan setiap hari selama minimal 8 jam. Durasi terapi ini dapat berkisar antara 6 bulan hingga 2 tahun, tergantung pada usia anak, kekakuan tulang dada, dan tingkat keparahan pigeon chest.

Tingkat keberhasilan terapi lebih tinggi jika brace digunakan secara konsisten. Banyak orang memilih terapi ini karena tingkat keberhasilannya yang tinggi dan potensi untuk mengurangi risiko pembedahan.

3. Operasi Korektif

Dalam kasus yang parah atau jika kondisi menyebabkan masalah pernapasan yang signifikan, prosedur bedah korektif seperti pembedahan Ravitch atau Nuss procedure mungkin diperlukan.


Mengatasi Tantangan Pada Pectus Carinatum

Penting bagi individu dengan pectus carinatum untuk mendapatkan dukungan psikologis dan emosional yang tepat. Banyak pasien mendapati bantuan dari kelompok dukungan atau konseling untuk membantu mereka mengatasi masalah percaya diri dan menghadapi perubahan fisik mereka dengan lebih positif.


Pencegahan Pectus Carinatum

Karena banyak faktor yang berkontribusi terhadap pectus carinatum tidak dapat dihindari, pencegahan kondisi ini tidak selalu memungkinkan. Namun, mempertahankan gaya hidup sehat, termasuk pola makan yang seimbang dan olahraga yang teratur, dapat membantu menjaga kesehatan tulang dan perkembangan fisik secara umum.


FAQ

1. Apakah Pectus Carinatum berhubungan dengan penyakit lainnya?

Pectus carinatum biasanya terjadi secara tunggal, tetapi dalam beberapa kasus, dapat terkait dengan sindrom atau penyakit lainnya. Contohnya termasuk:

  • Skoliosis
  • Marfan Syndrome
  • Noonan Syndrome
  • Turner Syndrome
  • Trisomi 21
  • Homosistinuria
  • Osteogenesis Imperfecta

Pada tambahan, pigeon chest juga sering kali terkait dengan kondisi riketsia, yang terjadi ketika anak kekurangan vitamin D. Hal ini mungkin disebabkan oleh penumpukan osteoid, yang merupakan bahan dasar tulang baru, namun belum mengalami mineralisasi yang sempurna.

Ada juga beberapa kasus pigeon chest yang muncul setelah operasi dada atau sebagai konsekuensi dari penyakit asma yang tidak terkontrol, meskipun kejadian ini sangat jarang terjadi.

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD

Dr. Budi Sugiarto Widjaja, MD merupakan CEO dari Spine Clinic Family Holistic sejak 2006, beliau yang membawa teknik Schroth Best Practice dan Brace GBW ke Indonesia serta telah menuliskan materi ilmiah mengenai tingkat keberhasilan Brace GBW dalam mengobati skoliosis dan keluhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.