Iliotibial Band Syndrome

Iliotibial Band Syndrome

6 mins read

Iliotibial Band Syndrome (ITBS) adalah kondisi yang umum terjadi pada atlet, terutama pelari, dan bisa menjadi sumber nyeri dan ketidaknyamanan yang signifikan pada sisi luar lutut. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara lengkap tentang ITBS, termasuk penyebab, gejala, diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan dampaknya pada para pelari dan atlet lainnya.


Apa itu Iliotibial Band Syndrome?

Iliotibial Band (ITB) adalah seutas jaringan yang panjangnya berjalan dari pinggul hingga ke bagian luar lutut. Fungsi utamanya adalah membantu dalam stabilisasi dan pergerakan lutut saat bergerak. ITBS terjadi ketika ITB mengalami gesekan berlebihan terhadap tulang paha atau bursa di sekitar lutut, menyebabkan peradangan dan rasa sakit.


Gejala Iliotibial Band Syndrome

Gejala Iliotibial Band Syndrome (ITBS) dapat bervariasi dari individu ke individu, tetapi ada beberapa gejala umum yang sering dijumpai. Berikut adalah beberapa gejala utama yang biasanya terkait dengan ITBS:

1. Nyeri di Luar Lutut

Salah satu gejala paling umum ITBS adalah nyeri yang terlokalisasi di sisi luar lutut. Nyeri ini sering kali muncul saat seseorang melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan berulang seperti berlari, bersepeda, atau menuruni tangga. Nyeri ini mungkin awalnya hanya terasa ringan atau terlokalisasi, tetapi dapat memburuk seiring waktu jika tidak diobati.

2. Nyeri Saat Berolahraga

Gejala nyeri ITBS cenderung memburuk saat seseorang mulai berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang melibatkan fleksion dan ekstensi lutut. Hal ini terutama terjadi pada tahap awal latihan atau setelah berolahraga untuk jarak yang lebih panjang.

3. Nyeri saat Menuruni Tangga

Aktivitas menuruni tangga seringkali memperburuk gejala ITBS. Ini karena gerakan menuruni tangga menempatkan tekanan ekstra pada ITB yang bisa memicu nyeri dan ketidaknyamanan.

4. Pembengkakan

Pada beberapa kasus, ITBS dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar sisi luar lutut. Pembengkakan ini mungkin terjadi sebagai respons terhadap peradangan yang terjadi di daerah ITB yang teriritasi.

5. Rasa Tegang atau Kaku

Beberapa individu dengan ITBS juga melaporkan sensasi tegang atau kekakuan di sepanjang jalur ITB, terutama setelah beraktivitas. Sensasi ini mungkin terasa saat bangun tidur di pagi hari atau setelah masa istirahat yang panjang.

6. Keterbatasan Gerakan

ITBS dapat menyebabkan keterbatasan gerakan di lutut yang terkena. Ini bisa menyebabkan kesulitan dalam melakukan gerakan tertentu seperti menekuk atau menegangkan lutut, terutama ketika kaki bergerak melalui fase fleksion dan ekstensi.

7. Sensasi Peregangan atau “Gesekan”

Beberapa orang dengan ITBS mungkin merasakan sensasi peregangan atau “gesekan” di sisi luar lutut saat bergerak. Sensasi ini mungkin terasa seperti gesekan atau hambatan saat melangkah atau berlari.

8. Pertanda Awal

Kadang-kadang, gejala ITBS dapat dimulai sebagai rasa sakit yang ringan atau ketidaknyamanan yang hanya terasa saat melakukan aktivitas tertentu. Namun, jika tidak diatasi, gejala tersebut dapat menjadi lebih menetap dan memburuk seiring waktu.

Gejala ITBS dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan frekuensi tergantung pada individu dan faktor-faktor lain seperti tingkat aktivitas dan kondisi fisik secara umum. Penting untuk mengenali gejala yang terkait dengan ITBS dan berkonsultasi dengan profesional medis atau terapis fisik untuk evaluasi lebih lanjut dan perawatan yang sesuai.


Penyebab Iliotibial Band Syndrome

Iliotibial Band Syndrome (ITBS) disebabkan oleh iritasi dan peradangan pada iliotibial band (ITB), seutas jaringan yang panjangnya berjalan dari pinggul hingga ke sisi luar lutut. Penyebab utama ITBS biasanya terkait dengan aktivitas berulang yang memicu gesekan berlebihan antara ITB dan struktur di sekitarnya, seperti tulang paha atau bursa, yang pada akhirnya menyebabkan peradangan. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan ITBS:

1. Aktivitas Berulang

Salah satu penyebab utama ITBS adalah aktivitas berulang yang menempatkan tekanan ekstra pada ITB. Ini terutama berlaku untuk olahraga seperti lari jarak jauh, bersepeda, atau aktivitas yang melibatkan gerakan berulang yang terus-menerus di lutut.

2. Ketegangan Berlebihan pada ITB

Ketegangan atau ketegangan berlebihan pada ITB dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk latihan yang berlebihan, peningkatan intensitas atau volume latihan yang tiba-tiba, atau ketidakseimbangan otot di sekitar pinggul dan lutut.

3. Perubahan dalam Tekanan atau Tekanan

Perubahan dalam tekanan atau tekanan pada ITB juga dapat menyebabkan ITBS. Misalnya, lari di permukaan yang tidak rata atau menggunakan sepatu yang tidak cocok bisa meningkatkan risiko cedera.

4. Ketidakseimbangan Otot

Ketidakseimbangan otot di sekitar pinggul dan lutut dapat menyebabkan ketegangan berlebihan pada ITB dan meningkatkan risiko ITBS. Otot-otot yang lemah atau kurang fleksibel dapat meningkatkan ketegangan pada ITB selama gerakan.

5. Faktor Struktural

Beberapa individu mungkin memiliki faktor struktural yang meningkatkan risiko ITBS, seperti struktur tubuh yang tidak seimbang atau anatomi yang tidak biasa yang mempengaruhi cara mereka bergerak dan menopang berat badan selama aktivitas.

6. Pemanasan yang Kurang Efektif

  • Pemanasan yang kurang efektif sebelum aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko cedera, termasuk ITBS.
  • Pemanasan yang baik membantu meningkatkan sirkulasi darah, mempersiapkan otot untuk aktivitas, dan mengurangi risiko ketegangan otot dan cedera.

7. Perubahan Teknik atau Perubahan Peralatan

Perubahan dalam teknik berlari atau bersepeda, serta penggunaan peralatan yang tidak sesuai, seperti sepatu yang tidak cocok atau penggunaan alat yang salah, juga dapat menyebabkan ketegangan berlebihan pada ITB dan memicu ITBS.

Penting untuk diingat bahwa ITBS dapat disebabkan oleh kombinasi dari faktor-faktor ini, dan penyebab pastinya mungkin berbeda antar individu. Identifikasi penyebab yang mendasari ITBS adalah langkah penting dalam mengelola kondisi ini dan mencegah kekambuhan.


Diagnosis ITBS

Diagnosis Iliotibial Band Syndrome (ITBS) melibatkan serangkaian langkah evaluasi yang dilakukan oleh dokter atau profesional medis yang terlatih dalam menangani cedera olahraga. Berikut adalah proses umum dalam mendiagnosis ITBS:

1. Wawancara Medis

Dokter akan mulai dengan wawancara medis untuk memahami riwayat gejala dan aktivitas fisik pasien. Ini termasuk pertanyaan tentang kapan dan bagaimana nyeri mulai terjadi, aktivitas apa yang memperburuk atau meredakan nyeri, serta riwayat medis dan olahraga pasien.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang cermat dilakukan untuk mengevaluasi daerah yang terkena, termasuk lutut, pinggul, dan paha. Dokter akan mencari tanda-tanda peradangan atau iritasi pada ITB, seperti nyeri tekan di sepanjang jalur ITB, pembengkakan, atau perubahan sensitivitas di sekitar sisi luar lutut.

3. Tes Fungsional

Tes fungsional dapat dilakukan untuk mengevaluasi kekuatan, fleksibilitas, dan stabilitas otot-otot yang terlibat dalam gerakan pinggul dan lutut. Ini dapat melibatkan tes kekuatan, peregangan, atau tes keseimbangan untuk menilai faktor-faktor yang mungkin berkontribusi pada ITBS.

4. Pemeriksaan Gerakan

Dokter mungkin juga mengamati gerakan tubuh pasien, termasuk teknik berlari atau bersepeda, untuk menilai apakah ada ketidakseimbangan atau masalah postur yang mungkin memengaruhi penggunaan ITB dan menyebabkan cedera.

5. Pemeriksaan Imajing

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merujuk pasien untuk pemeriksaan imajing seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau ultrasonografi untuk memeriksa struktur internal, termasuk ITB dan struktur sekitarnya, serta menyingkirkan kemungkinan kerusakan atau cedera yang lebih serius.

6. Pencobaan Terapi

Kadang-kadang, dokter mungkin memutuskan untuk mencoba terapi konservatif terlebih dahulu sebagai bagian dari proses diagnosis. Ini bisa mencakup pemberian istirahat, terapi fisik, peregangan, dan penggunaan alat bantu atau pelat lutut untuk melihat apakah gejala merespon perawatan.

Berdasarkan hasil evaluasi ini, dokter akan dapat membuat diagnosis akhir ITBS. Penting untuk mencatat bahwa proses diagnosis dapat bervariasi tergantung pada keparahan gejala, respons terhadap perawatan, dan faktor-faktor individu lainnya. Kolaborasi antara dokter, terapis fisik, dan spesialis olahraga sering diperlukan untuk membuat diagnosis yang akurat dan merencanakan perawatan yang sesuai. Jika diagnosis ITBS diduga, penting untuk mengikuti arahan dan rekomendasi dari profesional medis untuk meminimalkan risiko komplikasi dan mempercepat pemulihan.


Pengobatan ITBS

Pengobatan Iliotibial Band Syndrome (ITBS) biasanya melibatkan pendekatan yang komprehensif dan terdiri dari kombinasi strategi untuk mengurangi peradangan, memperkuat otot, meningkatkan fleksibilitas, dan mencegah kekambuhan. Berikut adalah beberapa cara umum untuk mengobati ITBS:

1. Istirahat

Mengistirahatkan area yang terkena ITBS adalah langkah penting dalam pengobatan awal. Ini membantu mengurangi tekanan pada ITB dan memungkinkan waktu bagi jaringan yang teriritasi untuk pulih.

2. Pengurangan Peradangan

  • Penggunaan es atau kompres dingin dapat membantu mengurangi peradangan dan nyeri di area yang terkena. Anda dapat menerapkan kompres dingin selama 15-20 menit beberapa kali sehari.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen atau naproxen dapat membantu mengurangi peradangan dan nyeri.

3. Terapi Fisik

  • Terapi fisik adalah komponen penting dari pengobatan ITBS. Ini mencakup latihan untuk memperkuat otot-otot yang terlibat dalam gerakan pinggul dan lutut, serta meningkatkan fleksibilitas otot dan jaringan.
  • Terapis fisik juga dapat melakukan manipulasi dan teknik pemijatan untuk meredakan ketegangan otot dan meningkatkan sirkulasi darah ke area yang terkena.

4. Peregangan dan Pemanasan

  • Peregangan secara teratur membantu meningkatkan fleksibilitas ITB dan otot-otot yang terkait, yang dapat mengurangi tekanan pada ITB selama aktivitas fisik. Peregangan yang fokus pada pinggul, paha, dan area sekitar lutut sangat penting.
  • Pemanasan sebelum aktivitas fisik membantu mempersiapkan otot-otot untuk latihan yang akan datang dan mengurangi risiko cedera.

5. Penggunaan Alat Bantu

Penggunaan alat bantu seperti pelat lutut atau bantalan khusus dapat membantu mengurangi tekanan pada ITB selama aktivitas fisik.
Pelat lutut yang dirancang khusus dapat membantu mendukung dan menopang area yang terkena, mengurangi gesekan dan tekanan berlebih pada ITB.

6. Injeksi Kortikosteroid

Dalam beberapa kasus yang parah dan kronis, dokter dapat meresepkan injeksi kortikosteroid langsung ke area yang terkena untuk mengurangi peradangan dan nyeri.

7. Evaluasi dan Koreksi Teknik Gerakan

Evaluasi dan koreksi teknik gerakan, terutama untuk olahraga berat, seperti berlari atau bersepeda, dapat membantu mengurangi tekanan berlebih pada ITB dan mencegah kekambuhan.

8. Penyesuaian Aktivitas

Sementara dalam proses pemulihan, menghindari aktivitas yang memperburuk gejala ITBS bisa sangat membantu. Pemilihan olahraga alternatif atau modifikasi aktivitas juga bisa menjadi pilihan.

9. Pemulihan yang Tepat

Memberikan waktu yang cukup untuk pemulihan dan tidak bergegas kembali ke aktivitas fisik yang intens adalah penting. Memulihkan tubuh secara menyeluruh membantu mencegah kekambuhan.

10. Pencegahan Kekambuhan

Setelah pemulihan, penting untuk melanjutkan latihan kekuatan dan fleksibilitas, serta menghindari faktor risiko yang memicu ITBS. Penggunaan sepatu yang tepat, pemanasan yang baik, dan perubahan dalam intensitas latihan yang bertahap juga dapat membantu mencegah kekambuhan.
Selalu konsultasikan dengan dokter atau terapis fisik sebelum memulai program pengobatan ITBS, karena setiap kasus bisa berbeda dan memerlukan pendekatan yang sesuai.


Dampak pada Para Pelari dan Atlet

ITBS dapat memiliki dampak yang signifikan pada pelari dan atlet lainnya. Selain menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mengganggu, ITBS juga dapat mengganggu pelatihan dan kinerja atlet. Pengobatan yang tepat waktu dan langkah-langkah pencegahan yang efektif dapat membantu atlet memulihkan diri dan mencegah kekambuhan cedera ini.

dr. Anna Steven, Sp.KO

dr. Anna Steven, Sp.KO, menyelesaikan spesialisasi Kedokteran Olahraga di Universitas Indonesia pada tahun 2021.

Table of Content